Sepakbola di Madiun Masa Kolonial II : Madioen Elftal dalam Stedenwedstrijden NIVB/NIVU.

Mengenai pendirian NIVB sudah dijelaskan sebelumnya, Bahwa NIVB (NederlandschIndische Voetbal Bond) adalah federasi yang mewadahi urusan sepakbola sepakbola di Hindia Belanda. NIVB berdiri pada 1919 di Batavia yang didirikan oleh empat kota besar di Pulau Jawa yakni Batavia, Bandung, Semarang, dan Surabaya.  NIVB menjadi satusatunya federasi di Hindia Belanda yang sudah menjadi anggota FIFA saat itu. Pada awalnya anggota-anggota perkumpulan NIVB hanyalah orang-orang Eropa saja. Namun, lambat laun mulai masuklah pemain-pemain dari kalangan Tionghoa dan pribumi. Anggotanya merupakan kota-kota besar di jawa yang kemudian membentuk federasi. NIVB kemudian membuat kompetisi yang mempertemukan kota-kota besar di pulau jawa atau dikenal dengan stedenwedstrijden de NIVB. Sebenarnya pertandingan antar kota sudah berlangsung 6 tahun sebelum NIVB berdiri.

Stedenwedstrijden pertama berlangsung pada bulan Agustus 1914. Pada itu bersamaan dengan perhelatan Koloniale Tentoonstelling (Pameran Kolonial) di Semarang. Dalam ingatan warga Semarang, momen ini dikenal dengan “Pasar Sentiling”, sebentuk salah ucap “Tentoonstelling” dalam lidah lokal. Sebagai upaya pemerintah kolonial untuk mengenalkan dirinya, momen itu digunakan untuk memamerkan berbagai kemajuan yang sudah dibuat oleh pemerintah, dari mulai teknologi sampai hasil bumi. Guna meramaikan pameran, tiap malam digelar juga pasar malam di beberapa tempat sekaligus. Digelar juga beberapa pertunjukan teater, musik sampai olahraga. Kriket dan sepakbola lagi-lagi ikut ambil bagian (Sugito, 2013).

Kompetisi diikuti oleh 4 Kota besar yakni Semarang (Tuan Rumah), Batavia, Bandung dan Surabaya. Sebenarnya tim singapura juga diundang kompetisi tersebut, tapi rencana itu gagal karena meletusnya Perang Dunia I. Batavia keluar sebagai juara setelah mengalahkan tuan rumah Semarang 2-0. Karena meningkatnya animo masyarakat untuk menonton pertandingan sepakbola yang dimainkan oleh klubklub terkemuka yang saling bertemu, turnamen yang awalnya hanya untuk memeriahkan Koloniale Tentoonstelling pun akhirnya menjadi turnamen rutin tahunan. Sejak itulah kompetisi antarkota tak putus-putusnya digelar setiap tahun dengan masingmasing kota bergiliran menjadi tuan rumah. Setelah berdirinya NIVB , federasi sepakbola Hindia Belanda, pada 1919, kompetisi ini pun pengelolaannya diambil alih-oleh NIVB.

Memasuki tahun 1920an, NIVB memerima banyak anggota. Banyak kota-kota yang akhirnya membentuk (bond atau federasi lokal). Pada 1925, Cirebon, Tegal dan Pekalongan mendirikan NJVB (Noord Java Voetbal Bond) dan diterima oleh NIVB. Sejak keanggotaan NIVB bertambah di luar empat kota utama itu, kompetisi antarkota pun statusnya resmi menjadi Steden Kampioenswedstrijden, setelah sebelumnya hanya berstatus Steden wedstrijden (Sugito, 2013). Bagaimana dengan Madiun? Dan kapan Madiun masuk menjadi anggota NIVB?. Ketika banyak kota-kota mendirikan bond-bond atau federasi lokal. Madiun masuk menjadi anggota NIVB pada tahun 1931, pada saat itu bersama Blitar dan Kediri mendirikan sebuah federasi sepakbola lokal yang bernama SCVD (Stadelijke Combinati Voetbal Bond).  Kompetisi tahun 1931, Blitar ikut berpatisipasi namun tim kala itu adalah tim gabungan (combinatie) Blitar, Madiun dan Kediri. Hasilnya tim gabungan tersebut melaju hingga putaran final (www.rsssf.com ). Lanjutkan membaca “Sepakbola di Madiun Masa Kolonial II : Madioen Elftal dalam Stedenwedstrijden NIVB/NIVU.”

Iklan

Sepakbola di Madiun Masa Kolonial I: Jejak klub-klub Sepakbola Madiun.

Sepakbola adalah olahraga yang paling popular di seluruh jagat raya. Di belahan bumi mana pun olahraga ini sangat dikenal dan sering dimainkan. Belum diketahui secara pasti dari mana asal olahraga ini ada yang menyebut cina dan jepang sebagai asal permainan menyepak bola ini. Secara de facto, permainan sepakbola modern mulai perkenalkan dan dimainkan di Inggris. Pada tahun 1863 merupakan tonggak sejarah sepakbola modern, ada wasit, luas lapangan, dan jumlah pemain yang dibatasi. Hal ini kemudian berkembang ke negeri jajahan Inggris dan daerah jajahan negara-negara di Eropa (Wahyudi, 2009: 17). Di  Indonesia, sepakbola  dikenalkan oleh warga Belanda dari Eropa yang berkerja pada instansi-instansi pemerintahan Hindia Belanda. Pada mulanya, sepakbola dimainkan oleh orang-orang Barat, terutama Belanda. Efeknya kemudian mulai berdiri klub-klub sepakbola. Tercatat klub pertama yang berdiri adalah “Gymnastiek Vereeniging” pada 16 November 1887 yang berasal dari Medan.  Sebenarnya Gymnastiek Vereeniging bukan merupakan klub sepakbola murni melainkan berbagai macam olahraga, namum sepakbola menjadi salah cabangnya. Sedangkan, klub sepakbola yang pertama di pulau jawa adalah Bataviasche Cricket-Football club “Rood-Wit” pada tanggal 28 September 1893 yang bermarkas di Batavia. Kemudian disusul oleh Victoria dari Surbaya pada tahun 1894 oleh John Edgar.

Klub pertama pribumi yang berdiri yaitu Romeo yang didirikan oleh Susunahan Pakubuwono X pada tahun 1908. Orang-orang Tionghoa pun juga tidak ketinggalan. Mereka mendirikan beberapa klub-klub sepakbola yang hampir disetiap daerah ada dan juga mendirikan Chineese Voetbal Bond pada 6 januari 1924 yang bertujuan orang Tionghoa semakin bangga dengan dunia sepakbola dan memperkuat kedudukannya terhadap Belanda (Aji  2010: 72). Klub Tionghoa yang sampai sekarang masih eksis adalah UMS (Union Makes Strength) yang berdiri pada tahun 1906. Semakin banyaknya perkumpulan Sepakbola, maka untuk memfasilitasi kegiatan persepakbolaan di Hindia Belanda khususnya di Jawa, pada tahun 1919 dibentuklah sebuah organisasi sepakbola yang ditujukan untuk mewadahi hal tersebut. Perkumpulan ini diberi nama NIVB (Nederlandsch Indische Voetbal Bond). Pada awalnya anggota-anggota perkumpulan NIVB hanyalah orang-orang Eropa saja. Namun, lambat laun mulai masuklah pemain-pemain dari kalangan Tionghoa dan pribumi. NIVB membuat kompetisi antar -kota bernama “stedenwedstrijden”  atau “Staden Tournooi”. Setelah NIVB berdiri organisasi sepakbola pribumi bernama Persatuan SepakBola Seluruh Indonesia PSSI. Pendirian PSSI tahun 1930 dilatari dengan semangat nasionalisme, sumpah pemuda dan tentunya semangat pegerakan nasional yang sedang berlangsung pada saat itu.

Pada Perkembangan selanjutnya, sepak bola mulai digerandungi semua kalangan dan banyak berdiri klub-klub sepakbola di kota-kota besar. Madiun juga terkena imbas dari olahraga terpopuler ini. Pada umumnya masyarakat Madiun sekarang terutama pecinta sepakbola tentu lebih mengenal PSM Madiun. Namun bukan karena prestasinya tapi perananya dalam pendirian PSSI tahun 1930. Selain PSM juga terdapat klub-klub lain yang turut mewarnai persepakbolaan di Madiun. Berikut ini adalah tulisan saya tentang sepakbola di Madiun pada masa colonial. Sebelumnya, sumber perkembangan sepakbola di Madiun masih sangat sedikit. Tanpa buku babon tentang sejarah sepekbola Indonesia, saya mencoba menulis artikel ini dengan data seadanya yang saya punya dan tentu banyak kekurangan. tulisan ini bisa berubah jika terdapat sumber baru. Lanjutkan membaca “Sepakbola di Madiun Masa Kolonial I: Jejak klub-klub Sepakbola Madiun.”