Gang Pesantren

Jalan Kaswari yang terletak di Kelurahan Nambangan Kidul, Kecamatan Manguharjo, Kota Madiun sempat dikenal sebagai tempat prostitusi. Kondisi itu tidak berlangsung lama, karena pemerintah memindahkannya ke tempat lain. Meski sempat memiliki kondisi seperti itu, ternyata jalan ini diam-diam menyimpan cerita sejarah yang bisa dikatakan luar biasa. Warga Jalan Kaswari sendiri menyebutnya lingkungan tempat tinggalnya dengan nama Gang Pesantren. Jika nama Jalan Kaswari diambil dari nama jenis burung yang hidup di tanah Papua dan Australia, Bagaimana dengan Gang Pesantren? Apakah dilingkungan ini dahulu pernah terdapat sebuah Pesantren.

Berdasarkan cerita lisan dari masyarakat Jalan Kaswari dahulu dilingkungan ini pernah hidup seorang ulama yang bernama KH. Sari Muhamad. Keterangan ini kemudian diperkuat oleh keluarga keturunannya langsung. KH. Sari Muhamad adalah tokoh alim ulama yang berasal dari Pagotan yang kemudian tinggal di Jambewangen, Desa Nambangan Kidul. Jambewangen merupakan nama padukuhan atau lingkungan dimana Jalan Kaswari ini berada. Jambewangen dipercayai ¬†merupakan nama seorang patih yang bernama asli Ki Ageng Jambe Wangen. Lanjutkan membaca “Gang Pesantren”

Iklan

Tanah Perdikan Wilayah Madiun (1) : Kuncen

Wilayah atau tanah perdikan merupakan wilayah atau tanah yang di bebaskan dari segala wajib pajak atau upeti karena daerah tersebut memiliki kekhususan tertentu dan berhak mengurus pemerintahanya sendiri. Perdikan berasal dari kata Mardikan/Merdeka yang berarti bebas.  Istilah sebelumnya pada masa hindu-budha dikenal juga dengan Tanah Sima. Menurut Timbul hariyono (1978:37), sima adalah sebidang tanah, baik berupa sawah, kebun,  desa atau beberapa taman, bahkan adakalanya hutan, karena suatu hal dijadikan perdikan. Peristiwa pendirian sima atau perdikan pada umumnya berkaitan dengan pemberian anugrah dari seorang raja atau bangsawan kepada sesorang atau sekelompok orang berupa pembebesan pajak kepada negara dengan tujuan hasil pajak tersebut dapat digunakan untuk pembiayaan pembangunan dan pemeliharaan sarana umum atau sebagai balas jasa.

Di wilayah madiun atau lebih tetapnya karesidenan Madiun, Desa Sima atau perdikan juga bisa kita temui. Baik itu masa kerajaan hindu-budha atau masa kerajaan islam. Pada masa Hindu-Budha Madiun memiliki beberapa daerah perdikan atau sering disebut sima. Status sima suatu daerah dituliskan dalam bentuk prasasti dari batu atau tembaga. Desa-desa tersebut adalah Desa Mruwak berdasarkan Prasasti Mrwak (1108 Saka), Desa Kawambang Kulwan berdasarkan Prasasti Sendang Kamal (915 saka), Desa Tadji berdasarkan prasasti Taji Ponorogo (823 Saka), dan Desa Palebuhan berdasarkan Prasasti Gorang-Gareng (849 Saka), Magetan. Status sima pada desa-desa diatas hanya berlangsung pada masa hindu-budha saja dan dari keempat desa sima di wilayah madiun hanya mruwak yang namanya masih dipakai hingga sekarang.

Pada masa Kerajaan islam, wilayah madiun juga masih memiliki desa perdikan. Pada masa Kesultanan Mataram Yogyakarta, Madiun memiliki 8 daerah perdikan masa yaitu tanah perdikan Taman, Kuncen (Demangan), Kuncen (Caruban), Sewulan, Banjarsari, Giripurno (Magetan), Tegalsari (Ponorogo) dan Pacalan (Magetan). Beberapa tanah perdikan merupakan tanah peruntukan untuk para makam bupati-bupati, dan keturunannya serta kyai-kyai besar yang berjasa pada pemerintahan pada saat itu. Selain makam, dibangun pula masjid sebagai tempat peribadatan namun tidak semua tanah perdikan di terdapat sebuah masjid. Pemimpin tanah perdikan ini adalah seorang kyai atau ulama. Status perdikan mulai dihapus setelah kemerdekaan dan menjadi desa biasa yang dikepalai oleh Kepala Desa atau Lurah. Semua daerah bekas tanah perdikan masih ada hingga sekarang bahkan menjadi tujuan untuk menimba ilmu agama islam dan berziarah serta berwisata religi. Tulisan ini akan memberikan informasi sedikit tentang sejarah desa-desa perdikan di Madiun yang ada pada masa Kesultanan Mataram-Yogyakarta. Sumber utama tulisan ini berasal dari buku Sejarah Kabupaten Madiun tahun 1980 serta ditambahkan beberapa literatur.

Tanah Perdikan Kuncen Lanjutkan membaca “Tanah Perdikan Wilayah Madiun (1) : Kuncen”