Kerkhof Madiun dan Mary Manuel

Prolog[1]

Kerkhof berasal dari kata dalam bahasa belanda (kerk = gereja, hof = disebut kuburan) yang berarti kuburan yang berada di halaman gereja. Konsep tersebut merupakan hal yang umum ditemukan di Eropa, khususnya pada abad pertengahan. Di Inggris kuburan di halaman gereja disebut dengan churchyard. Menurut Mike Parker Pearson (1999) dalam The Archaeology of Death and Burials, church atau gereja dan churchyards (gereja-makam) di Eropa, khususnya di Inggris merupakan bangunan yang dianggap penting, suci, dan mempunyai pengaruh yang kuat sekaligus sebagai pembeda kelas sosial. Pada abad ke-17 sampai dengan awal abad ke-19 M, churchyard semakin penuh dengan kuburan keluarga sehingga dibuatlah permakaman baru. Berbeda di Inggris yang sebagian masih mempertahankan kuburan-gereja (churchyards) di Amerika pada abad ke-20 kuburan-kuburan di dekat gereja sudah dilarang[2].

Di Indonesia terdapat beberapa kerkhof (gereja dengan kuburan), misalnya di gereja Sion (1693 M), de nieuwe Hollandsche Kerk (Museum Wayang Jakarta) 1640 M, dan Gereja Sion di Tomohon (1831 M), Sulawesi Utara[3]. Tahun 1795 Pemerintah Belanda melarang pemakaman di area gereja. Alasanya adalah karena menurut Pemerintah Belanda, memakamkan orang di halaman gereja tidak baik untuk kesehatan jemaat gereja[4]. Nama kerkhof kemudian menjadi (area) kuburan saja dan tidak selalu berhubungan atau dekat dengan keberadaan gereja atau yang mengacu pada kuburan atau makam orang-orang asing atau Eropa saja. Di beberapa kerkhof seperti di Bandung ditemukan pula kuburan orang-orang Cina[5].

Sekilas Kerkhof Madiun.

Belanda berhasil menguasai Madiun setelah perang diponegoro atau tepatnya tahun 1830. Setelah itu pula Belanda mulai melakukan perancangan penyusunan pemerintahan, tata kota serta pembangunan. Pemerintahan Karesidenan Madiun dibentuk, kemudian bangunan pendukung pemerintahan karesidenan didirikan. Orang-orang eropa pun mulai berdatangan ke Madiun dan membuat pemukiman yang terpusat dan berkembang disebelah utara pendopo kabupaten Madiun. Dalam hal tempat peristirahatan terakhir, orang-orang eropa memilih lokasinya berada dukuh djuritan, desa Madiun Lor atau tepat berada disebelah utara dukuh djuritan dan timur bantaran sungai Madiun. Lanjutkan membaca “Kerkhof Madiun dan Mary Manuel”

Iklan

Menyingkap Asal-Usul Nama Tugu Kota Madiun

Sebagian besar warga Madiun lebih mengenal nama Tugu sebagai nama sebuah perempatan yang menjadi titik temu tiga jalan raya yakni Jalan Panglima Sudirman, Jalan Pahlawan dan Jalan HOS Cokroaminoto. Namun jika ditanyai soal asal-usulnya banyak yang tidak tahu da nada juga  menjawab pasti dahulu ada tugunya entah itu posisinya dimana. Dalam kamus bahasa Indonesia tugu adalah tiang besar dan tinggi yang dibuat dari batu, bata, dan sebagainya. Dari pengertian tersebut dapat memunculkan pertanyaan mengenai asal-usul nama Tugu Madiun seperti, apakah dahulu memang terdapat sebuah tugu, seperti apa bentuknya dan dimana lokasinya?

Perempatan Tugu dari arah Toko Manies
Perempatan Tugu diambil dari arah Toko Sepatu Manies (Sumber Foto : Dokumen pribadi)

Lanjutkan membaca “Menyingkap Asal-Usul Nama Tugu Kota Madiun”

Sejarah Nama Jalan di Kota Madiun : Jalan Pahlawan

Dahulu Jalan Pahlawan Kota Madiun memiliki tiga nama dari tiga masa berbeda. Pertama, Pada masa kolonial bernama Resident Laan. Dinamakan demikian karena di Jalan ini terdapat Rumah sebagai  tempat tinggal Resident Madiun. Rumah Residen ini dibangun pada tahun 1831. Sesuai dengan tahun pembangunanya, langgam bangunannya adalah Indische Empire. Sebuah gaya arsitektur yang popular pada abab ke-19 dengan salah satu cirinya yakni penyangga teras khas pilar yunani. Residen pertama Madiun diketahui bernama Loudewijk Launi (1830-1838). Bangunan berlokasi di depan Taman Makam Pahlawan ini sekarang dijadikan sebagai Rumah Dinas Barkorwil Madiun (Badan Koordinasi Wilayah Madiun). Sebuah badan yang fungsinya sama dengan karesidenan.

Capture
Resident Laan, pada potongan Peta Hoofdplaats Madioen tahun 1917 , 

Lanjutkan membaca “Sejarah Nama Jalan di Kota Madiun : Jalan Pahlawan”

Pendopo Kabupaten Madiun di Pangongangan

Kabupaten Madiun berdiri sejak tahun 1568. Waktu itu masih bernama Kadipaten Purabaya. Pusat pemerintahan pertama diyakini di Desa Sogaten. Bupati pertama tercatat dengan nama Pangeran Timur yang merupakan Putra Bungsu dari Sultan Trenggono. Dalam perkembanganya, pusat pemerintahan kabupaten Madiun sudah berkali-kali mengalami berpindah tempat. Sebab perpindahan tersebut tidak diketahui selain alasan kosmologis Jawa. Sebagaimana yang telah diketahui, banyak kota kerajaan di Jawa yang selalu berpindah setiap kali pergantian rezim (Hudiyanto, 2003). Adapun daerah-daerah yang pernah dijadikan pusat Pemerintahan Kabupaten Madiun adalah Sogaten (masih Purabaya), Kuncen (Wonorejo (masih Purabaya), Demangan (Wonosari), Kranggan, Maospati (Magetan), Pangongangan, dan yang baru saja Mejayan (Caruban).

Kota Madiun
Kompleks Pendopo Kab. Madiun dalam Peta tahun 1917 (sumber kitlv)

Lanjutkan membaca “Pendopo Kabupaten Madiun di Pangongangan”

Sekilas Balai Kota Madiun

Banyak tinggalan bangunan-bangunan berasitektur eropa yang masih bisa dilihat di Kota Madiun ini. Salah satunya adalah Balai Kota Madiun. Balaikota merupakan pusat pemerintahan Kota Madiun. Di gedung ini para petinggi kota ini seperti walikota, wakil walikota dan sekretaris daerah berkantor dan menjalankan pemerintahan. Kantor Balai Kota Madiun beralamat di Jalan Pahlawan No.37, Kelurahan/Kecamatan Kartoharjo.

Sejarah pembangunan gedung ini diawali setelah Pemerintah Hindia-Belanda mengesahkan berdirinya Gemeente (Kota) Madiun pada 20 Juni 1918 berdasarkan tahun 1918 Stasblad No. 326. Pemerintahan ini terpisah dari pemerintahan kabupaten dengan kepala pemerintahan yang disebut Burgemeester (walikota). Setelah berdiri jabatan Burgemeester masih dipegang oleh seorang Assistent-Resident yang bernama W.M. Ingenluyff.

20170914_114655
Balai Kota Madiun (Dok. Pribadi tahun 2017)

Lanjutkan membaca “Sekilas Balai Kota Madiun”

Sekilas Rumah Kapiten China Madiun

Sebuah bangunan tua yang berada disebelah selatan alun-alun kota madiun hingga kini masih berdiri kokoh. Meski sekarang tidak berpenghuni, bentuk bangunan tersebut masih menarik perhatian. Tidak berpenghuni yang dimaksud disini adalah pemilik rumah yang asli tidak tinggal atau belum ditempati. Namun didalam tidak kosong, terdapat satu keluarga yang ditugaskan menjaga dan merawat rumah tersebut. Warga sekitar hanya mengetahui rumah tersebut adalah rumah Belanda. Bahkan kesan menakutkan atau angker pun datang dari beberapa warga, karena rumah kuno tersebut selalu sepi dan tertutup.

Sebenarnya rumah tersebut bukan Rumah Belanda, melainkan rumah penguasa kampung Tionghoa (Pecinan) madiun yang dikenal dengan Kapiten. Perlu diketahui juga penguasa kampung Tionghoa pada masa pemerintahan kolonial dikenal dengan sebutan Mayor, Kapiten, dan Letnan. Ketiga istilah tersebut tidak berhubungan dengan pangkat militer. Jabatan-jabatan tersebut merupakan kedudukan yang diberikan oleh pemerintah Hindia-Belanda kepada suatu orang untuk memimpin dan mengendalikan komunitas atau kelompok etnis yang dipimpinya (seperti Tionghoa, dan Arab).

Kota Madiun sendiri memilik pecinan yang cukup luas. Lokasinya berada disebelah selatan alun-alun hingga memanjang sampai pasar sleko. Sekarang daerah ini mencangkup Kelurahan Nambangan Lor (Kecamatan Mangunharjo) dan Kelurahan Pandean (Kecamatan Taman). Di Pecinan Madiun tidak hanya terdapat Kapiten, melainkan ada juga Letnan. Lokasi rumah Letnan Tionghoa sekarang sudah berubah menjadi dealer motor di Jalan H. Agus Salim.

20171003_155056
Rumah Kapiten Tionghoa Madiun tahun 2017 (Dok. Andrik)

Rumah Kapiten China Madiun menghadap arah utara atau berhadapan langsung dengan Jalan Alun-alun barat. Arsitektur rumah ini sangat kental dengan gaya Indische Empire. Disebut Rumah Kapiten China karena rumah ini dahulu ditinggali oleh seorang Kapiten China.

Namanya adalah Njoo Swie Liam. Diangkat menjadi Kapiten China untuk memimpin Pecinan Madiun pada 12 Juni 1912. Tahun 1930 Njoo Swie Liam mangkat dan dimakamkan di Pemakaman Tionghoa (Bongpay) Mangunharjo. Proses pemakamannya sempat diabadikan dalam bentuk film yang berdurasi 7 Menit.

Latar video mengambil rumah tersebut, jembatan Mangunharjo lama hingga bongpay Mangunharjo. Film tersebut sementara menjadi satu-satunya dokumentasi Kota Madiun tempo dulu dalam bentuk gambar bergerak. Setelah Njoo Swie Liam meninggal, rumah ini ditempati keturunanya Njoo Hong Boe. Sehingga rumah in juga dikenal dengan nama Rumah Hong Boe. Selama puluhan tahun keluarga Njoo menjadi pemilik rumah tersebut. Kini kabarnya rumah tersebut tidak lagi dimiliki oleh kelurga Njoo.

Rumah ini juga sempat menjadi Kantor Organisasi Orang Tionghoa Chunghua Chunghui (CHCH) dan sempat pula digunakan untuk sekolah. Terakhir kali sempat dijadikan sebuah gudang distributor sebuah perusahaan”.

Pada akhir September 2017, Rumah ini data dan dikaji oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur dan Pemerintah Kota Madiun, yang kemudian nantinya akan dijadikan obyek Cagar Budaya Kota Madiun. Jika sudah jadi cagar budaya kedepanya nanti kemungkinan bisa digunakan untuk wisata sejarah, museum atau mungkin penginapan.

Situs Umpak Resho Gati : Cikal Bakal Kab. Madiun

Kelurahan atau Desa Sogaten merupakan sebuah wilayah yang masuk kecamatan Mangunharjo, Kota Madiun. Siapa sangka kelurahan yang terletak sebelah utara kota madiun dan berbatasan dengan desa sidomulyo Kab. Madiun ini memiliki peran penting dalam berdirinya kabupaten Madiun. Desa Sogaten dulu merupakan pusat pemerintahan awal atau cikal bakal Kabupaten Madiun. Tinggalan sejarah berupa umpak-umpak di desa ini di duga kuat sebagai bekas istana kadipaten Purabaya. Awal sejarah kenapa desa sogaten disebut sebagai cikal kabupaten madiun di mulai pada masa Kerajaan Demak.

Pangeran Surya Pati Unus yang merupakan Putra Raden Patah menikahi Putri dari Kerajaan Hindu Ngurawan. Pernikahan ini disebut juga sebagai strategi politik dan budaya sekaligus yang tidak kalah penting islamisasi. Setelah menikah, Pati Unus kemudian mendirikan pemukiman disebarang sungai madiun yang kemudian diberi nama Purabaya. Lokasi pemukiman itu diperkirakan di Sogaten sekarang. Ternyata Pati unus tidak lama di purabaya karena harus mengantikan ayahnya yang telah mangkat. Tahun 1518, Pati Unus menunjuk dan mengirimkan seorang pengawas untuk mengantikan dirinya di purabaya. Pengawas itu bernama Kyai Rekso gati. Tak hanya menjadi pemimpin desa Kyai Resko Gati juga meneruskan upaya proses islamisasi yang sebelumnya dilakukan oleh Pati Unus. Kisah Kyai Reksogati ini kemudian sedikit saya kaitan dengan versi lain mengenai asal-usul nama madiun.

Dalam tinjauan bahasa Kawi, kata “Madiun” berasal dari kata dasar diu berarti raksasa, ma menggambarkan tindakan aktif dan an menggambarkan tempat. Jika digabungkan ma + diu + an berarti tempat raksasa. Raksasa dalam wacana pemikiran abad XV merupakan terminologi yang dikenakan pada pemuja berhala atau pemeluk agama asli. Tokoh Ki Sura merupakan gambaran dari Kyai Reksogati yang merupakan mubaligh  dan raksasa bukan berarti orang jahat dan durhaka tetapi merupakan gambaran penduduk yang masih beragama Hindu yang dianggap masih menyembah berhala atau arca. Dengan demikian penamaan Madiun berkait erat dengan proses Islamisasi daerah Madiun oleh Kesultanan Demak. Lanjutkan membaca “Situs Umpak Resho Gati : Cikal Bakal Kab. Madiun”