Sejarah Nama Jalan di Kota Madiun : Jalan Pahlawan

Dahulu Jalan Pahlawan Kota Madiun memiliki tiga nama dari tiga masa berbeda. Pertama, Pada masa kolonial bernama Resident Laan. Dinamakan demikian karena di Jalan ini terdapat Rumah sebagai  tempat tinggal Resident Madiun. Rumah Residen ini dibangun pada tahun 1831. Sesuai dengan tahun pembangunanya, langgam bangunannya adalah Indische Empire. Sebuah gaya arsitektur yang popular pada abab ke-19 dengan salah satu cirinya yakni penyangga teras khas pilar yunani. Residen pertama Madiun diketahui bernama Loudewijk Launi (1830-1838). Bangunan berlokasi di depan Taman Makam Pahlawan ini sekarang dijadikan sebagai Rumah Dinas Barkorwil Madiun (Badan Koordinasi Wilayah Madiun). Sebuah badan yang fungsinya sama dengan karesidenan.

Capture
Resident Laan, pada potongan Peta Hoofdplaats Madioen tahun 1917 , 

Pada masa Jepang, tempat ini tidak berubah hanya saja namanya menjadi rumah Syuchokan. Syu : karesidenan, Chokan ; Kepala, Jadi artinya masih sama dengan Resident. Syuchokan Madiun dijabat oleh orang Jepang yang diketahui bernama Ryuichi Takemasa (1942-1943) kemudian dijadikan oleh Yoshiaki Yamamoto (1943-1944)[1].

Saat itu pula Resident Laan diubah menjadi Jalan Showa[2]. Nama Showa mengambil dari sebutan zaman dimana Kaisar Hirohito berkuasa yakni “Showa Jidai”. Zaman ini  terhitung ketika Kaisar Hirohito naik tahta tahun 1926 hingga meninggal tahun 1989. Oleh karena itu, kaisar yang menjadi aktor utama perang dunia II ini juga bergelar Kaisar Showa[3].

20170919_132920
Rumah Resident Madiun yang sekarang Jadi Rumah Dinas Kepala Barkorwil Madiun

Terakhir, Setelah Kemerdekaan berganti nama lagi menjadi Jalan Raya. Penamaan Jalan Raya mengacu pada fungsi jalan ini dulu yang menjadi bagian dari Jalan Raya Provinsi. Pada masa kolonial pun Jalan ini juga termasuk bagian dari Groote Postweg atau Jalan Raya Post Surabya – Solo – Yogykarta. Sedangkan nama jalan Pahlawan sudah ada sejak tahun 1970an.

Captusadare
Sebuah Iklan Hotel tahun 1926, Iklan tersebut membuat lokasi hotel di Grooten Postweg Djocja – Solo – Soerabaja. Hotel ini sekarang Hotel Merdeka sedangkan Grooten Postweg adalah Jalan Pahlawan (Officiel Reisgids der Spoor – en Tramwegen en Aan Sluitende Automobiledienst op Java en Madoera).

Jalan Pahlawan membentang dari utara ke selatan dari pertigaan Pasar Sepor hingga perempatan Tugu. Melintasi Kelurahan Madiun Lor dan menjadi batas dua kelurahan yakni Pangongangan dengan Kartoharjo. JalanBerdasarkan arus lalulintasnya, jalan ini terbagi menjadi dua yakni Jalan Pahlawan Utara yang merupakan jalan dua arah sedangkan Jalan Pahlawan utara merupakan Jalan satu arah. Batasnya adalah perempatan Gereja Santo Cornelius.

20180318_093330
Suasana Perempatan Gereja Santo Cornelius Jalan Pahlawan, Kota Madiun

Kantor-kantor vital pendukung pemerintahan pada masa kolonial hampir semuanya dipusatkan di Jalan ini. Mulai dari Gouv. Kantoren, Landraad (Sekarang Jadi Asrama Polisi Benteng), Assisten Resident Woning (Ditempati Markas Korem DSJ 081 Kota Madiun), Postkantoor (ditempati Warung Soto Lamongan), Weksplats Burgelijk Openbare Werken (Ditempati Kantor UPT  Pengelolaan Jalan dan Jembatan Bina Marga Madiun),  Kantoor Irrigatie en Boschwezen (UPT Pengelolaan Sumber Daya Air Di Madiun), Assiten Resident Kantoor (Jadi Restoran Cepat Saji, Sempat jadi kantor PLN, ), Raadhuis (Balai Kota)Controlir, Vendumeester Kantoor (Jadi Pusat Perbelanjaan), dan Gouv. Telefon Kantoor (Kantor Telkomsel dan sempat Jadi Kantor RRI). Selain itu pula terdapat dua gedung pertunjukan yakni Societeit Constantia (Ditempati Kodim 0803 Madiun) dan Madioen Schouwburg (Jadi Pusat Perbelanjaan) Serta sebuah Hotel yang bernama Hotel Van Beresteijn (Jadi Hotel Merdeka).

[1] Gunawan, I Gede Putu. 1981. Madiun shu Pada Masa Pendudukan Jepang, Skripsi : Fakultas Sastra Universitas Indonesia
[2] Sinar Matahari (Djokjakarta), 12 Juli 1943. Pemindahan Kantor-Kantor Madioen. Berita ini memuat pemindahaan kantor-kantor vital pemerintahan di Madiun dan pada akhir paragraph memuat “…..Kantor Kesehatan jang doeloe bertempat bersama-sama dengan dengan Kantor Syuu pada masa ini menempati bekas Gereja Besar Di djalan Showa.” Gereja besar yang dimaksud adalah Gereja Santor Cornelius sekarang ini.
[3] https://id.wikipedia.org/wiki/Zaman_Sh%C5%8Dwa, 18 Maret 2018, 10 :45
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s