Tanah Perdikan Wilayah Madiun (1) : Kuncen

Wilayah atau tanah perdikan merupakan wilayah atau tanah yang di bebaskan dari segala wajib pajak atau upeti karena daerah tersebut memiliki kekhususan tertentu dan berhak mengurus pemerintahanya sendiri. Perdikan berasal dari kata Mardikan/Merdeka yang berarti bebas.  Istilah sebelumnya pada masa hindu-budha dikenal juga dengan Tanah Sima. Menurut Timbul hariyono (1978:37), sima adalah sebidang tanah, baik berupa sawah, kebun,  desa atau beberapa taman, bahkan adakalanya hutan, karena suatu hal dijadikan perdikan. Peristiwa pendirian sima atau perdikan pada umumnya berkaitan dengan pemberian anugrah dari seorang raja atau bangsawan kepada sesorang atau sekelompok orang berupa pembebesan pajak kepada negara dengan tujuan hasil pajak tersebut dapat digunakan untuk pembiayaan pembangunan dan pemeliharaan sarana umum atau sebagai balas jasa.

Di wilayah madiun atau lebih tetapnya karesidenan Madiun, Desa Sima atau perdikan juga bisa kita temui. Baik itu masa kerajaan hindu-budha atau masa kerajaan islam. Pada masa Hindu-Budha Madiun memiliki beberapa daerah perdikan atau sering disebut sima. Status sima suatu daerah dituliskan dalam bentuk prasasti dari batu atau tembaga. Desa-desa tersebut adalah Desa Mruwak berdasarkan Prasasti Mrwak (1108 Saka), Desa Kawambang Kulwan berdasarkan Prasasti Sendang Kamal (915 saka), Desa Tadji berdasarkan prasasti Taji Ponorogo (823 Saka), dan Desa Palebuhan berdasarkan Prasasti Gorang-Gareng (849 Saka), Magetan. Status sima pada desa-desa diatas hanya berlangsung pada masa hindu-budha saja dan dari keempat desa sima di wilayah madiun hanya mruwak yang namanya masih dipakai hingga sekarang.

Pada masa Kerajaan islam, wilayah madiun juga masih memiliki desa perdikan. Pada masa Kesultanan Mataram Yogyakarta, Madiun memiliki 8 daerah perdikan masa yaitu tanah perdikan Taman, Kuncen (Demangan), Kuncen (Caruban), Sewulan, Banjarsari, Giripurno (Magetan), Tegalsari (Ponorogo) dan Pacalan (Magetan). Beberapa tanah perdikan merupakan tanah peruntukan untuk para makam bupati-bupati, dan keturunannya serta kyai-kyai besar yang berjasa pada pemerintahan pada saat itu. Selain makam, dibangun pula masjid sebagai tempat peribadatan namun tidak semua tanah perdikan di terdapat sebuah masjid. Pemimpin tanah perdikan ini adalah seorang kyai atau ulama. Status perdikan mulai dihapus setelah kemerdekaan dan menjadi desa biasa yang dikepalai oleh Kepala Desa atau Lurah. Semua daerah bekas tanah perdikan masih ada hingga sekarang bahkan menjadi tujuan untuk menimba ilmu agama islam dan berziarah serta berwisata religi. Tulisan ini akan memberikan informasi sedikit tentang sejarah desa-desa perdikan di Madiun yang ada pada masa Kesultanan Mataram-Yogyakarta. Sumber utama tulisan ini berasal dari buku Sejarah Kabupaten Madiun tahun 1980 serta ditambahkan beberapa literatur.

Tanah Perdikan Kuncen

kuncen

Wilayah Kelurahan Kuncen yang diberi kotak merah, (sumber google maps)

Secara Administratif Kuncen sekarang merupakan sebuah Kelurahan yang masuk wilayah Kecamatan Taman, Kota Madiun.  Kelurahan kecil memiliki wilayah kecil, yang diapit oleh Kelurahan Josenan dan Kelurahan Demangan. Sejarah berdirinya desa perdikan kuncen dimulai ketika wilayah madiun di bawah kerajaan demak. Wilayah Kuncen pada saat itu masih berupa hutan liar dan lebat, tetapi tanahnya baik dan subur sebab terdapat sebuah sendang. Nama lama Kabupaten Purabhaya adalah nama kabupaten Madiun pada masa Kerajaan Pajang. Berdasar temuan artefak, diperkirakan istana Kabupaten Purabaya pertama kali berlokasi di daerah Jiwan, Madiun Barat (kini masuk wilayah kota Madiun).  Bupati Pertama Kabupaten tersebut adalah Kyai Rekso Ganti yang mulai memerintah sejak Juli 1568 (Hudiyanto, 2003 : ). Sumber sejarah kabupaten Madiun menyebutkan bahwa Kyai Rekso Ganti sebenarnya merupakan utusan kerajaan Demak yang ditugaskan untuk mengislamkan wilayah Madiun dan bisa dikatakan bupati tidak resmi (de jure). Umpak-umpak yang diperkirakan sebagai bekas kraton dapat kita temui di pemakaman umum rekso ganti, Kelurahan Sogaten, Kota Madiun, sedangkan Makam Kyai Rekso Ganti berada di Kelurahan Sidomulyo, Kota Madiun. Tanggal 18 Juli 1568, diangkatlah Pangeran Timur/Panembahan Rama menjadi Bupati Kabupaten Purabhaya, pada tanggal itu pula dimulailah pemerintahan secara yuridis formal.

img20160807115755

Makam Ki Rekso Ganti di Pemakaman Desa Sidomulyo

Sekitar tahun 1575, pusat pemerintahan yang ada di Desa Sogaten mengalami kemunduran dari segi geografis. Lalu lintas niaga sungai di sana makin dangkal, sulit untuk dilalui kapal-kapal layar yang berukuran besar. Bupati Pangeran Timur melakukan pemindahan pusat pemerintahan. Areal Hutan Wonorejo yang berada di utara muara sungai catur di sungai Madiun menjadi lokasi utama. Alasan pemilihan wilayah tersebut adalah wilayah tersebut terdapat sungai catur dan sungai glandong yang memiliki arti kepentingan strategi  dan ekonomi mengingat bahwa kedua sungai tesebut merupakan jalan simpang lalu lintas besar Sungai Madiun. Kedua tanah di wilayah baru merupakan tanah kering berbeda dengan tanah di wilayah sebelumnya. Ketiga wilayah baru baik untuk sebagai benteng pertahanan kota dan Keempat sebagai Bupati yang memerintah secara de facto, Pangeran Timur menginginkan tempat kedudukan baru atas kuasanya di Wilayah mancanegara Timur.

Ketikan Kerajaan Pajang runtuh oleh kerajaan Mataram, Kabupaten Purabhaya menjadi kabupaten yang berdiri sendiri dan tidak menyatakan tunduk kepada tuan baru yakni Mataram. Tidak tunduknya Purabaya, maka Mataram segera mengirim expedisi militer untuk menaklukan Purabaya sebagai pimpinan Kabupaten Mancanegara Timur (Brang wetan), tahun 1586 dan 1587. Panembahan Rama dan Retno Ayu Djumillah memimpin prajurit purabhaya untuk melawan pasukan Pasukan Mataram dibawah Panembahan Senopati atau Danang Sutowijoyo. Namun, pada akhirnya Kabupaten Purabhaya dapat kuasai dengan siasat pura-pura takluk oleh Ki Mandaraka (Juru Mertani). Kemudian pada 16 November 1590, Purabhaya diubah menjadi Madiun oleh Panembahan Senapati.

Pada saat penaklukan oleh Mataram, terjadi banyak korban dikedua belah pihak prajurit, Pusat peperangan terjadi di sekitar sendang dekat istana Kabupaten di Wonorejo (kuncen), korban-korban tersebut dimakamkan di sekitar sendang. Panembahan Senopati kemudian memberi otonomi luas pada daerah ini dan tidak ditarik pajak dalam bentuk apapun serta mengangkat Juru kunci untuk memelihara dan menjaga makam. Itulah sebabnya daerah ini disebut “Kuncen”. Desa Perdikan Kuncen terletak di arah barat laut Desa Demangan (bekas Ibukota Wonosari atau pindahan Wonorejo), perlu diketahui, setelah Wonorejo hancur akibat perang, pusat pemerintahan bupati bergeser ke timur yakni menempati kutho miring (Demangan).

page2

Makam Pangeran Timur Bupati Madiun pertama

Makam Kuncen hingga saat ini masih di hormati dan dikeramatkan masyarakat Madiun. Bupati-bupati yang di makamkan disini adalah Panembahan Rama (Pangeran Timur), serta bupati Madiun bergelar Mangkunegoro, yaitu : Mangkunegoro I (Raden Mas Bagus Petak atau Pangeran Adipati Djuminah), Mangkunegoro II (Raden Mas keniten atau Pangeran Adipati Martoloyo), Mangkunegoro III (Raden Kyai Irodikromo), Mangkunegoro IV. Sesuai daftar silsilah Bupati Madiun, para pejabat dan bangsawan yang di makamkan disini adalah keturunan dari Pangeran Timur. Selain itu juga ada makam Kyai Grubug, beliau berasal dari Banten dan sebagai pengasuh keluarga Bupati Mangkunegoro I.

2

Pertanggalan pada gapura pintu masuk Makam dan Papan nama yang memuat tulisan Bupati-Bupati Madiun yang di Makamkan di Kuncen

Karena statusnya sebagai tanah makam keluarga,  kyai yang merawat areal makam juga bertindak sebagai Kepala Desa. Ia diberi kebebasan menguasai daerah sekitar areal makam, maka dikenal dengan Desa Perdikan. Berikut merupakan nama-nama Kyai yang memimpin Desa Perdikan Kuncen : Kyai Grubug, Kyai Semin I, Kyai Semin II, Kyai Semin III, Kyai Semin IV, Kyai Djodo, Kyai Mat Ngarif, Kyai Darsono, Kyai Sutopo, Kyai Karsono, dan Kyai Kentjono. Pintu masuk makam berada di sebelah timur dengan gapura yang diberi penanggalan 1-1-1942 yang kemungkinan pembangunan gapura tersebut.

page

Gapura Masjid Kuncen dan Masjid Kuncen

Selain Makam Kuncen, disini juga ada Masjid tertua di Madiun dan Sendang. Masjid tua tersebut bernama Masjid Nur Hidayatullah. Nama Nur Hidayatullah merupakan nama baru sedangkan nama asli dari masjid ini belum diketahui seperti halnya dengan tahun pendirian masjid ini. Di area Masjid artefak-artefak purbakala seperti batu mirip dudukan arca dengan hiasan teratai dengan atasnya diberi batu persegi yang kemudian bisa funsgikan sebagai jam waktu sholat?, kemudian ada Tempayan berinskripsi kaligrafi arab. Sendang (tempat pemandian) berada di sebelah barat daya masjid ini dan yang dihormati dan keramat. Sejak tahun 2006 dilaksanakan kembali tradisi mataraman, yaitu grebeg maulud Nabi Muhamad, SAW dengan acara kirab gunungan jaler dan gunungan estri dengan dinaikan ke kereta kuda dari Masjid Kuncen menuju ke Masjid Donopuro Taman, atau dari Alun-alun Madiun menuju ke Masjid Taman.

page222

Benda Purbakala di Masjid Kuncen dan Sendang Kuncen

Bersambung Lanjut ke Tanah Perdikan Taman

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s