Kerkhof Madiun

Kota Madiun dibentuk oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 20 Juni 1918, berkat adanya undang-undang disentralisasi. Pada awal pembentukan Gemeente Madiun tahun 1918, jumlah penduduk kota tersebar di dua belas desa dan seperti halnya beberapa daerah lain di Pulau Jawa, penduduk Kota Madiun terdiri atas tiga kewargaan yaitu warga Bumi Putera, Tionghoa dan warga Eropa. Ketiga golongan warga ini kemudian membentuk komunitas atau kampongnya masing. Berdasarkan hasil pengamatan daerah warga eropa berada disekitar area industri dan kantor-kantor pemerintahan (Jln Pahlawan), Bumi Putera bertempat sekitar alun-alun dan masjid agung (Mangunharjo), sedangkan Komunitas orang-orang Tionghoa berada di selatan alun-alun. Dalam hal pemakaman umum pun juga sendiri-sendiri, Pemakaman warga eropa yang biasa disebut Kerkhof berada di sebelah timur bantaran sungai madiun dan menempati wilayah kelurahan Madiun Lor. Namun, sayang wilayah kerkhof pada tahun 2000 mengalami alih fungsi tempat dan diambil alih oleh pemerintah kota. Bekas tanah Kerkhof tersebut kemudian dibangun beberapa fasilitas umum, meliputi jalan dan jembatan tembus ke winongo, perumahan, masjid, dan puskemas. Menurut penuturan salah satu warga, pembongkaran makam-makam sudah ada pemberitahuan sehingga banyak makam yang diambil tulang-tulang oleh keluarga untuk dipindah ke tempat lain. Pembongkaran itu tidak semua di area bekas kerkhof masih bisa beberapa makam saja yang berada di sebelah selatan dekat masjid.

page
Wilayah Kerkhof Madiun, Berdasar peta kota madiun tahun 1917 (Leiden.maps.) dan Peta sekarang bertanda kotak merah (googlemaps)

Berdasarkan peta lama wilayah kerkhof madiun memanjang dari tikungan jalan Candi Sewu hingga perempatan jalan Prambanan ke utara. Perlu diketahui bahwa jalan Candi Sewu pada saat Madiun berstatus Gemeente dulu bernama Kerkhoflaan atau Jalan Kerkhof. Pengelolaan makam eropa sepenuhnya ditangani oleh pemerintah kota pada saat itu. Hal ini dibuktikan pada tahun 1920 Pemerintah kota membeli sebuah lahan di Jalan Kerkhof untuk pembangunan sebuah rumah dinas penjaga makam warga Eropa.  Kemudian pada tahun 1925 dua rumah dinas di jalan yang sama diselesaikan. Dua rumah ini diperuntukkan bagi dua orang yaitu pengawas makam warga Eropa dan seorang mandor warga Eropa yang bekerja untuk Dinas Gemeentewerken (Hudiyanto, 2003). Belum diketahui rumah dinas tersebut berada disebelah mana meskipun sekitar jalan Candi Sewu masih bisa ditemui beberapa rumah-rumah kuno, begitu juga yang ada di jalan Prambanan. Pintu masuk makam ada yakni sebelah selatan dan utara. Pada tiap pintu di beri gardu/pos penjaga. Pagar makam dulunya dari duri kemudian berubah menjadi tembok dan bekas tembok makam masih bisa dikita temui. Dulu juga pernah juga terdapat gudang kereta jenazah yang kini menjadi masjid.

page2
Yang tersisa dari kerkhof Madiun (Sumber foto pribadi 2013)

Makam-makam yang tersisa berada di sebelah selatan atau di tingkungan Jalan Candi Sewu. Makam yang dapat dikita lihat hanya beberapa saja. Oleh warga setempat makam-makam tersebut sering dijadikan tempat untuk duduk-duduk, tempat pembuangan sampah dan bahkan terdapat sebuah warung. Nama-nama orang yang di makamkan beberapa juga masih ada. Sebagian besar adalah nama-nama pribumi. Diantaranya adalah

  1. Tinus B. Simorangkir_Lahir 17-7-1971_Wafat 17-8-1975
  2. Marmi Italiania_Soerabaja_622  (Terindentifikasi Sebagai Makam Mary Manuel)
  3. Rarimpunan Siregar_*3_10_1903 † 14_9_1958 “Mataku  Telah Melihat Terang Jang Datang Dari Padamu_Lukas 2 29 30”
  4. NJ. T. Tarjono_Lahir : Kertosono_30-8-1916 Wafat : Madiun_10-4-1970 dan R. Tarjono_Lahir : Wonogiri_13-1-1917 Wafat : Madiun_5-3-1968
  5. Pam Valentyn_Soepnel_25-3-1953 Slawi_15-4-1957 Redjosari “Lekker Lope Pain”
  6. R. NGT.A.A Singowidjojo_Wafat Pd. Tgl : 11-10-1958
  7. Yvonne Jane Ong Bo Tan_L. 26-XI-49 – AE. 16-IX-56_Wahju 14:18.
  8. Mayi Indasiahaan_Stugu? 27-4-1905_Monding? 16-10-1967
  9. Agustine Bawole
  10. _______”Allah itu Kasih Adanja_Tjahja 4:8
  11. Tulisan sudah aus (dekat makam Mary Manuel),
  12. Tulisan sulit dibaca (dekat Makam Singowidjojo)
  13. Makam Rusak (Dekat Makam Tinus B. Simorangkir)
  14. Makam berada dirumah seorang nenek.

Makam berbentuk balok besar bertuliskan Marmi Italiani_Soerabaja_622 ternyata bukan makam biasa melainkan orang besar. Warga sekitar sering menyebut makam itu sebagai makam nyah mawel. Nyah Mawel yang dimaksud kemungkinan besar adalah Mary Manuel. Siapakah dia? Mary Manuel (1868-1928) adalah orang menghibahkan tanahnya untuk pembangunan Madioen Teather atau gedung Bioskop Lawu tahun 1928. Pemerintah Gemeente Madiun dulu sempat mengubah Madioen Theater menjadi Mary Theater untuk meghormatinya. Sekarang gedung bioskop tersebut menjadi pusat perbelanjaan. Makam ini masih dikenal mistis oleh beberapa warga. Pada bulan tertentu pihak pusat perbelanjaan selalu datang ke makam tersebut untuk berziarah, karena dia adalah tuan tanah yang sebenarnya. Makam Mary Manuel sebenarnya tidak berada dekat pintu masuk selatan melainkan awalnya berada di dekat perempatan Jalan Prambanan. Pada saat pembongkaran, makam tersebut tidak dibongkar melainkan dilakukan pemindahaan yang sampai mendatangkan orang pintar. Makam tersebut dulu mempunyai tugu dengan terdapat guci berkain diatasnya dan pada bagian tugu terdapat inskripsi “Hier rusten Mary Josephine Manuel Emmy en Maar Moder Elizabeth Jansen”. Bila diperkirakan tinggi keseluruhan sekitar 2,5 Meter. Sekarang bagian tugu dan guci sudah hilang dan yang tersisa adalah balok bagian bawah dan dudukan guci. Sedangkan tulisan AI Marmi Italiani Soebaraja merupakan perusahaan marmer asal italia yang berada di Surabaya. Bisa dipastikan bahwa makam Mary Manuel memakai marmer dari perusahaan tersebut.

makam-mary-manuel
Kiri atas foto lama Makam Mary Manuel, Kanan atas foto Mary Manuel, foto bawah Makam Mary Manuel sekarang dan bagian dari tugu di makamnya (Sumber foto imexbo.nl dan foto pribadi)

Jika nasi tidak menjadi bubur, bisa kembali dibayangkan jika kerkhof Madiun masih ada kemudian dirawat dan dikelola oleh pihak tertentu. Tentunya akan menjadi tujuan wisata sejarah di wilayah kota Madiun layaknya Taman Makam Prasasti di Jakarta.

Catatan : Tulisan ini merupakan pembaruhan tulisan lama saya yang di http://andrik-kun.blogspot.nl/2013/05/yang-tersisa-dari-kerkhof-madiun.html

Sumber :

Hudiyanto, Reza.2002. Pemerintahan Kota madiun 1918-1941. Tesis. UGM

http://www.imexbo.nl/madioen-kerkhof.html.

http://www.imexbo.nl/madioen-mary-manuel.html.

Iklan

3 tanggapan untuk “Kerkhof Madiun

    1. Terima kasih bapak… mungkin ini sedikit tulisan untuk memancing para pencinta sejarah khususnya sejarah madiun agar bisa melestarikan sejarahnya.
      iya pak, tulisan ini tentunya akan berubah sewaktu-waktu seriring dengan masuknya data.

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s