Punden Watu Lesung

Dalam laporan RCO tahun 1906 menyebutkan bahwa di Desa Kedondong, Dusun Watoe Lesoeng terdapat beberapa benda purbakala. Desa Kedondong adalah sebuah desa berada di wilayah Kecamatan Kebonsari, kabupaten Madiun. Berdasarkan Laporan RCO 1906, terdapat beberapa benda purbakala yang tercatat antara lain : Arca Dwarapala (Tinggi, 0,60 M), Yoni, 2 Buah arca Ganesha, 2 Buah Batu. Membaca laporan tersebut saya langsung melakukan pengecekan. Pengecekan saya lakukan tanggal 20 Januari 2016 di temani oleh Mas Anang Theadventure (nama Facebooknya). Punden Watu Lesung berada di sebuah pohon yang besar dan sangat memberi kesan mistis. Punden ini dinamakan watu lesung karena merupakan nama dusun dan disini juga terdapat batu lesungnya. Apa yang tercatat di Laporan RCO 1906 tentang benda purbakala watu lesung masih terdapat di punden tersebut. Benda Purbakala yang masih ada adalah

  1. 2 buah Arca Ganesha : Kondisi kedua arca ganesha tersebut sudah sangat aus kepalanya sudah hilang dan digambarkan dalam posisi duduk
  2. 2 buah batu berbentuk persegi, batu ini menurut saya kemungkinan adalah altar atau bisa juga bagian cari candi. Batu 1 berukuran 79x79x40 cm dan berpelipit bagian atas batu ini terdapat lubang-lubang kecil (dakon), sedangkan batu II berukuran 77x77x37 cm dan juga berpelipit
  3. Disekitaran situs ini banyak terdapat bata merah berukuran besar, salah satu bata tersebut berukuran 34x23x9 cm

Saat pengecekan, saya tidak mememukan arca dwarapala dan yoni. Menurut keterangan warga yang kebetulan ada disitu, di dekat sungai desa ini terkubur sebuah sebuah batu berlubang yang warga desa menyebutnya watu lesung. Selain itu, disini dulu juga terdapat arca akan tetapi sekarang sudah hilang. Disekitar situs ini terdapat beberapa makam, entah itu makam baru atau kuno saya belum tahu informasinya.

 

Iklan

Watu Gilang dan Yoni Nawatsari

Desa Kertosari, Kecamatan Geger adalah desa dimana kakek saya tinggal. Ternyata tanpa saya sadari desa itu memiliki benda purbakala. Info keberadaan benda purabakala tersebut saya peroleh dari Mas Anang TheAdventure dan sempat diposting grup Facebook Historia Van Madioen. Beberapa hari setelah diposting, saya kemudian menghubungi mas anang untuk mengantarkan ke tempat benda purbakala tersebut.

Benda purbakala tersebut adalah sebuah ambang pintu, yang kemungkinan merupakan komponen dari bangunan candi. Warga dusun Gilang menyebut batu ini dengan “watu gilang” dan dipundenkan oleh warga setempat. Sebelah barat dari punden ini terdapat sebuah sungai yang bernama Kedung Maron. Batu tersebut tak hanya satu akan tetapi dua buah. Batu I (ambang pintu) memiliki ukuran 190x65x25 cm berpelipit dan berinskripsi, Batu II berukuran 135x79x 28 cm dan hanya berbentuk persegi. Batu I menjadi perhatian saya karena batu tersebut berinskripsi.  Aksara yang berdapat pada Batu I adalah Kwadrat. Aksara Kwadrat adalah aksara jawa kuno yang ciri utamanya berbentuk persegi atau bisa juga kaligrafinya jawa kuno. Salah satu contoh prasasti beraksarakwadrat adalah Prasasti Poh sarang. Panjang inskripsi pada batu I tersebut 58 cm. Menurut, salah satu warga setempat inskripsi tersebut sudah pernah dibaca oleh peneliti sekitar tahun 1950an. Intrepetasi sementara, inskripsi tersebut merupakan sebuah sengkalan atau angka tahun yang dilambangkan dengan kata-kata.

Bergerak ke arah timur berjarak sekitar 5 km tepatnya di Dusun Nawatsari, Desa Banjarsari wetan, kami berkunjung ke Rumah Bapak Ikhsanudin. Rumah bapak Ikhsanudin menyimpan sebuah benda purbakala yaitu sebuah yoni. Yoni yang pada bagian bawah ceratnya memiliki hiasan kepala naga (sekarang sudah aus) tersebut diletakan didepan rumahnya. Yoni ini sempat difoto dan dimasukan dalam buku sejarah kabupaten Madiun dan dalam foto tersebut kepala naganya masih terlihat jelas. Yoni memilki pasangan berupa lingga (berbentuk tiang atau phallus) dan keduanya merupakan perlambang dewa siwa. Yoni Nawatsasri ini memiliki ukuran Tinggi 63 cm Panjang 67 cm dan lebar 67 cm, Panjang cerat 30 cm, sedangkan tempat untuk lingga berbentuk persegi berukuran 20×21 cm dengan kedalaman 30 cm. Yoni ditemukan sekitar sawah di utara desa ini tahun 1965. Menurut pak Ikhsanudin, bersamaan dengan ditemukan yoni tersebut ditemukan juga beberapa lumping dan pecahan gerabah dan pemindahannya membutuhkan banyak orang.

IMG20160123102755
Penulis dengan Yoni Nawatsasi

Benda Purbakala di Barkowil Madiun

Badan Koordinasi Wilayah Madiun adalah sebuah kompleks bangunan tinggalan kolonial yang dulunya adalah Rumah Resident Karesidenan dan Kantor Karesidenan Madiun. Rumah Resident Madiun sampai sekarang masih berdiri megah, terawat dan digunakan untuk rumah dinas kepala Barkorwil Madiun. Rumah atau gedung yang berada di Jalan Pahlawan depan TMP ini diperkirakan dibangun pada akhir abab 19 ketika wilayah Madiun sudah berhasil dikuasai oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Namun, di sini tidak akan membahas rumah residen tersebut akan tetapi beberapa benda purbakala yang ada di bekas rumah residen tersebut. Benda-benda purbakala tersebut diletakan pada taman sebelah kiri. Terdapat 6 buah benda purbakala yang ada di taman tersebut. Belum diketahui berasal dari mana benda-benda tersebut, akan tetapi bisa dimungkinkan semuanya merupakan temuan dari wilayah Madiun. Berdasarkan OVJ (Oudhen Van Java) tahun 1891 dan ROC tahun 1906, area bekas resident madiun dulu pernah ada beberapa benda-benda purbakala. Akan tetapi beberapa benda yang dipindahkan ke Museum Nasional, salah satunya adalah Batu berangka tahun 1391 saka.

Kumpulan benda purbakala yang masih ada di Bekas Rumah Resident Madiun adalah

  1. Arca Tokoh Wanita.

Arca Tokoh wanita ini berdiri diantara arca nandi 1 dan arca yang sudah aus. Secara kondisi (2014) arca ini sudah aus, wajah arca juga sudah aus, dan terdapat warna seperti warna cat. Arca dideskripsikan berdiri dengan sikap samabhanga dengan bertangan empat, 2 tangan di belakang memegang tangkai bunga teratai (lotus) yang belum mekar, tangan kiri diposisikan berada di tengah perut (sikap setengah yogamudra),dengan membawa sesuatu yang kemungkinan itu Padma tangan kanan diposisikan lurus kebawah yang kemungkinan lagi itu aksamala/tasbih?. Bagian perut terdapat hiasan yaitu udarabandha. Hiasan pada kepala sudah aus, akan tetapi memiliki rambut ikal.

  1. Arca Nandi 1

Nandi merupakan vahana (tunggangan) dari Dewa Siwa. Nandi digambarkan dalam seekor Sapi atau Lembu. Arca nandi selalu diwujudkan dalam sikap mendekam.

IMG_8814

  1. Arca Durga Mahisasuramardini

Disamping arca nandi terdapat sebuah arca tokoh yang kondisinya (2014) sudah banyak ditumbuhi jamur lychen, sudah aus, bagian kepalanya sudah hilang dan berdiri di atas sebuah binatang. Arca ini kemungkinan adalah Arca Durga Mahisasuramardini. Arca Durga merupakan perwujudan lain dari dewi uma atau parwati. Arca ini digambarkan bertangan 4 ada juga yang bertangan 8. Salah satu tangan kanan dan kirinya memegang rambut asura dan ekor mahisa, sedangkan tangan-tangan yang lainnya memegang senjata-senjata. Pada arca ini asura terletak di sebelah kanan dan sudah sangat aus. Karena arca ini sudah sangat aus sulit untuk mengindetifikasi atribut-atribut yang lain

IMG_8816

  1. Arca Nandi 2

Arca ini berada di belakang arca durga dan arca nandi 1. Kondisi arca ini pada bagian kepalanya sudah hilang.

IMG_8817

  1. Relief Tokoh Wanita

Sekilas arca ini seperti relief lepas yang kemungkinan bagian dari candi. Relief ini termasuk salah satu ciri relief jawa timuran yang posisi hadap ke samping seperti wayang. Relief ini mengambarkan tokoh/figure seorang wanita.

IMG_8818

  1. Arca Agastya

Arca ini dipastikan adalah Arca Agastya. Arca Agastya memiliki ciri yaitu perut buncit (ada juga yang langsing), dan berberapa atributnya yaitu jatamakuta (mahkota), aksmala (tasbih), camara (pengusir lalat), kamandalu (kendi), hingga Trisula. Kondisi arca ini sudah tidak baik terdapat semen yang menempel pada kaki arca, bagian muka sudah aus. Dewa Agastya juga disebut siwa mahaguru atau representasi siwa dan juga merupakan seorang resi penyebar agama hindu ke arah selatan.

IMG_8820

  1. Arca Nandi 3 dan Batu Lumpang

Arca ini berada menjadi dekat dengan relief tokoh wanita, dan arca Agastya, disamping itu juga terdapat batu lumpang

IMG_8824

  1. Arca Tokoh/Dewa

Arca ini tidak menjadi satu dengan kumpulan arca yang ada ditaman barkorwil, akan tetapi arca ini berada tidak jauh dari kumpulan arca barkorwil. Arca berdiri dengan posisi samabanga. Kondisi arca sudah sangat aus hampir sudah tidak dapat dikenali, akan tetapi pada tangan kanannya terlihat seperti membawa aksamala (tasbih)

IMG_8830

 

 

Prasasti Bulugledeg

Prasasti Bulu Gledeg keberadaanya pernah diberitakan oleh Veerbek (1891) dan Knebel (1905). Prasasti ini terletak di Kebun belakang milik Bapak Parjo Sukiem, Dsn/Dsa Bulu Gledeg, Kec. Bendo Kab. Magetan. Sekilas info saja Desa ini ternyata banyak yang menanam Pohon Jeruk Bali….

Keadaan prasasti ini cukup dan bisa dibilang mengenaskan. Prasasti ini “tertidur” diatas pondasi semen (150×150 cm) dan dikelilingi tembok tinggi 100 cm.  Ukuran panjang seluruhnya (Badan+Lapik Padma+Kaki yang runcing) prasasti ini adalah 140cm, lebar 69 cm dan tebal 69 cm. Kondisi tulisanya sudah sangat aus, begitu pula pada bagian permulaan tempat angka tahun sudah terhapus, akan tetapi pada baris ke 4 dapat terbaca”……..ha mantri i sirikan mpu……… sor i rakrya….”Gelar Sirikan ini membuktikan bahwa prasasti ini berasal dari berasal dari Zaman Kadiri (Suhadi, 1986 : 37)

 

Prasasti Mruwak

Desa Mruwak adalah salah satu desa tertua di wilayah Madiun. Bukti tertua itu tertuang pada sebuahp rasasti yang bernama Prasasti Mrwak. Prasasti ini masih in situ berada di area pemakaman umum dukuh Mruwak dan sekarang diberi cungkup dan pagar batas dari besi. Prasasti ini berbentuk kurawal, memiliki hiasan padmasana dibagian pada bawah dan berukuran tinggi 83 cm, Lebar atas/bawah 59/40 cm, tebal atas/tengah/bawah 7/15/10 cm. Tulisan pada prasasti ini dituliskan pada empat sisinya dengan huruf jawa kuno. Yang menarik ukuran huruf pada prasasti ini semakin kebawah semakin kecil, hal ini bisa dimungkan bahwa Citralekha (penulis Prasasti) bukan yang ahli. Prasasti Mrwak pernah dicatat pada tahun 1980 pada saat tim penelitian epigrafi di wilayah Jawa Timur yang dipimpin oleh Drs.Machi Suhadi dan dibantu oleh Prof Boechari. Hasilnya menemukan nama Raja dan pembacaan angka tahun 1108 saka/1186 M (Nasoicah, 2007). Tahun 1108 Saka adalah dimana Raja Kameswara dari kerajaan  Panjalu/Kadiri berkuasa hal ini berdasarkan Prasasti Semanding 1104 Saka dan Prasasti Semanding 1109 Saka.

Isi prasasti ini adalah penetapan Desa Mruwak menjadi sīma. Sebab penetapan tersebut adalah adanya penyerangan dari pihak luar, sehingga Desa Mruwak dipindahkan ketempat yang lebih tinggi dari lokasi semula (Nosoicah, 2007). Prasasti ini menyebut nama raja Sri Jaya Prabhu, nama ini dimungkinkan adalah Śrī jayawarsa digjayaśastraprabhu yang gelarnya disebutkan secara lengkap dalam prasasti sirah keteng 1126 Saka. Perlu diketahui Prasasti Sirah Keteng (sekarang di Museum Nasional) ditemukan didaerah Sirah Keteng, Desa Bedingin, Kec. Sambit, Kab. Ponorogo.

Lanjutkan membaca “Prasasti Mruwak”