Sekilas Rumah Kapiten Tionghoa Madiun

Sebuah bangunan tua yang berada disebelah selatan alun-alun kota madiun hingga kini masih berdiri kokoh. Meski sekarang tidak berpenghuni, bentuk bangunan tersebut masih menarik perhatian. Tidak berpenghuni yang dimaksud disini adalah pemilik rumah yang asli tidak tinggal atau belum ditempati. Namun didalam tidak kosong, terdapat satu keluarga yang ditugaskan menjaga dan merawat rumah tersebut. Warga sekitar hanya mengetahui rumah tersebut adalah rumah Belanda. Bahkan kesan menakutkan atau angker pun datang dari beberapa warga, karena rumah kuno tersebut selalu sepi dan tertutup.

Sebenarnya rumah tersebut bukan Rumah Belanda, melainkan rumah penguasa kampung Tionghoa (Pecinan) madiun yang dikenal dengan Kapiten. Perlu diketahui juga penguasa kampung Tionghoa pada masa pemerintahan kolonial dikenal dengan sebutan Mayor, Kapiten, dan Letnan. Ketiga istilah tersebut tidak berhubungan dengan pangkat militer. Jabatan-jabatan tersebut merupakan kedudukan yang diberikan oleh pemerintah Hindia-Belanda kepada suatu orang untuk memimpin dan mengendalikan komunitas atau kelompok etnis yang dipimpinya (seperti Tionghoa, dan Arab). Kota Madiun sendiri memilik pecinan yang cukup luas. Lokasinya berada disebelah selatan alun-alun hingga memanjang sampai pasar sleko. Sekarang daerah ini mencangkup Kelurahan Nambangan Lor (Kecamatan Mangunharjo) dan Kelurahan Pandean (Kecamatan Taman). Di Pecinan Madiun tidak hanya terdapat Kapiten, melainkan ada juga Letnan. Lokasi rumah Letnan Tionghoa sekarang sudah berubah menjadi dealer motor di Jalan H. Agus Salim.

20171003_155056

Rumah Kapiten Tionghoa Madiun tahun 2017 (Dok. Andrik)

Rumah Kapiten Tionghoa Madiun (kemudian saya disingkat RKTM) menghadap arah utara atau berhadapan langsung dengan Jalan Alun-alun barat. Arsitektur rumah ini sangat kental dengan gaya Indische Empire. Gaya Arsitektur Indische Empire popular pada akhir abab ke 19 dan bisa dimungkinkan RKTM dibangun pada akhir abab 19. Tidak banyak informasi sejarah yang saya peroleh mengenai rumah ini. Yang saya ketahui hanya, Kapten Tionghoa Madiun yang bernama Njoo Swie Liam pernah tinggal disini hingga meninggal tahun 1930. Proses pemakamannya sempat dokumentasikan dalam bentuk video dan dulu masih bisa diakses lewat youtube. Kapiten Njoo Swie Liam dimakamkan di Pemakaman Tionghoa di Mangunharja, Kota Madiun.

Kepemilikan rumah ini ternyata sudah pindah tangan dan masih milik pribadi. Menurut informasi, sebelum sekitar tahun 2010 rumah ini masih dimiliki oleh keluarga Njoo. Keluarga Njoo merupakan keluarga dari  Kapiten Njoo Swie Liam. Kemudian rumah ini dibeli atas nama perseorangan, dan sempat disewakan untuk gudang barang perusahaan. Pada akhir September 2017, RKTM data dan dikaji oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur dan Pemerintah Kota Madiun, yang kemudian nantinya akan dijadikan obyek Cagar Budaya Kota Madiun. Jika sudah jadi cagar budaya kedepanya nanti kemungkinan bisa digunakan untuk wisata sejarah, foto, museum atau mungkin penginapan. Sungguh terlalu jika rumah bersejarah dan sebagus itu dibiarkan sepi dan tertutup.

Iklan

Asal Usul Telaga Sarangan Magetan

Pada zaman dahulu kala, di lereng Gunung Lawu bagian timur, hiduplah sepasang suami istri bernama Kiai Pasir dan Nyai Pasir. Mereka tinggal di sebuah pondok kecil terbuat dari anyaman bambu beratapkan dedaunan. Mereka hanya tinggal berdua karena selama bertahun-tahun menikah tidak dikaruniai seorang anak pun. Tempat tinggal mereka juga sangat terpencil, sangat jauh dari permukiman warga. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, mereka menanam umbi-umbian di sekitar pondok. Sayuran dan buah-buahan didapat dengan mudah di hutan sekitar. Kadang-kadang, Kiai Pasir berburu binatang untuk lauk. Daging binatang dikeringkan sehingga dapat disimpan untuk waktu lama. Kadang-kadang saja, Kiai Pasir pergi ke pasar desa yang terdekat untuk menukar barang yang tidak ada di lereng gunung, seperti garam dan beras. Barang-barang dari gunung yang laku ditukar dengan bahan makanan adalah kayu bakar. Untuk itu, Kiai Pasir rajin mengumpulkan kayu bakar, baik yang berupa ranting-ranting maupun kayu belah.

Pada suatu hari, Kiai Pasir pergi ke hutan untuk menebang pohon. Batangnya akan digunakan untuk mengganti tiang pondoknya yang sudah dimakan rayap, sedangkan rantingrantingnya akan dikeringkan untuk kayu bakar. Pagi-pagi sekali setelah menyantap ubi bakar, ia pamit pada istrinya hendak ke hutan yang agak jauh dari pondoknya. Ia membawa kapak dan air minum di dalam wadah bambu. lstrinya melepas kepergian Kiai Pasir di depan pondok dengan pesan untuk pulang sebelum hari gelap.

Tiba di tengah hutan, Kiai Pasir mencari-cari pohon yang cukup besar dan berbatang lurus supaya kuat dijadikan tiang. Pohon-pohon di hutan itu besar-besar ukurannya. Padahal, Kiai Pasir hendak menebang yang berukuran sedang supaya ia kuat memikulnya pulang ke pondok. Tidak lama kemudian, ia pun menemukan pohon yang sesuai dengan keinginannya. Karena semak belukar di sekitar pohon itu sangat lebat, Kiai Pasir ptm terlebih dahulu membersihkannya agar ia mudah mengayunkan kapaknya ke pangkal pohon. Saat ia sedang menyibak dan membersihkan semak itu, dilihatnya ada sebutir telur berukuran cukup besar tergeletak di atas tumpukan dedaunan seperti sarang. Kiai Pasir teringat istrinya yang tentu akan sangat senang mendapat telur untuk santapan. Apalagi, mereka jarang sekali dapat makan telur. Tanpa berpikir lagi, diambilnya telur itu kemudian dimasukan ke dalam wadah bambu yang sudah kosong. Baca lebih lanjut

Asal Mula Desa Tiron (Kec. Madiun, Kab. Madiun)

Penulis/Narasumber : Ismono

Pada waktu Perjanjian Gianti Puro antara Pangeran Mangkubumi atau Sunan Pakubowono III dan Kompeni Belanda di Desa Gianti, Pangeran Mangkubumi mendapat sebagian wilayah Kasunanan Strrakarta Hadiningrat yang letaknya disebelah barat Kasunanan. Wilayah timur Kabupaten Madiun termasuk di dalam kekuasaan Pangeran Mangkubumi.

Kira-kira pada tahun 1755 M, berdirilah suatu kerajaan yang bemama kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Adapun yang menjadi raja saat itu adalah Pangeran Mangkubumi dengan gelar Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Senopati Hing Ngaloga Sayidin Panetep Panoto Garno Kalipatullah Amirulmukminin Tanah Jawi yang pertama (I).

Pada dasamya, Kanjeng Sultan Hamengku Buwono Hamengku Buwono mempunyai tujuan ingin merdeka dan berdiri sendiri, tidak mau beketja sama dengan Kompeni Belanda. Beliau ingin menyejahterakan seluruh rakyat Ngayogyakarta Hadiningrat tanpa kecuali dan tidak meminta bantuan kepada kompeni. Maksud baik Kanjeng Sultan mendapat tantangan dari patihnya yang bemama Patih Danurejo I karena Patih Danurejo sudah mendapat hasutan dan bujuk rayu dan kompeni Belanda dengan tujuan untuk mengadu domba.

Dengan akal bulus Patih Danurejo, Kanjeng Sultan Hamengku Buwono dapat dipengaruhi dan akhimya berdatanganlah komperu Belanda ke kesultanan. Di situ mereka mendirikan loji-loji dan mendirikan benteng dengan alasan untuk menjaga keselamatan dan keamanan kesultanan.

Lama-kelanman tingkah laku kompeni Belanda semakin keterlaluan yaitu terlalu ikut mencampuri urusan pemerintahan dalam kesultanan. Segala urusan pemerintahan yang kurang cocok dengan komperu Belanda harus diubah. Kanjeng sultan sudah tidak bisa berbuat apa-apa karena sudah dihasut oleh Patih Danurejo I. Suasana kesultanan nlakin lama makin panas karena campur tangan kompeni Belanda dan Patili Danurejo I.
Dalam suasana yang memanas ini muncullah seorang panglima perang yang bemama Pangeran Denowo. Panglima perang ini akan mengadakan pemberontakan terhadap kesultanan dan kompeni Belanda dengan tujuan agar kanjeng sultan hams memutuskan hubungarmya dengan kompeni Belanda dan kompeni Belanda secepatnya meninggalkan kesultanan Ngayogyokarto. Pangeran Denowo sebenamya masih kerabat keraton dan pada masa Pangeran Mangkubumi mengadakan perlawanan terhadap kompeni Belanda, Pangeran Denowo menjadi panglima perangnya. Di dalam pertempuran melawan kompeni Belanda, pasukan yang dipimpinnya selalu mendapat kemenangan. Baca lebih lanjut

Situs Umpak Resho Gati : Cikal Bakal Kab. Madiun

Kelurahan atau Desa Sogaten merupakan sebuah wilayah yang masuk kecamatan Mangunharjo, Kota Madiun. Siapa sangka kelurahan yang terletak sebelah utara kota madiun dan berbatasan dengan desa sidomulyo Kab. Madiun ini memiliki peran penting dalam berdirinya kabupaten Madiun. Desa Sogaten dulu merupakan pusat pemerintahan awal Kabupaten Madiun. Cikal berdirinya kabupaten Madiun diawali oleh datangnya utusan dari Kerajaan Demak. Pada tahun 1918, Pangeran Surya Pati Unus mengirimkan seorang pengawas bernama Kyai Reksogati ke Purabhaya. Selain bertugas sebagai pengawas, Kyai Reksogati  juga bertugas untuk menyebarkan agama islam di wilayah Madiun yang masih banyak menyembah berhala. Kisah Kyai Reksogati ini, memunculkan versi lain mengenai asal-usul nama madiun.

Dalam tinjauan bahasa Kawi, kata “Madiun” berasal dari kata dasar diu berarti raksasa, ma menggambarkan tindakan aktif dan an menggambarkan tempat. Jika digabungkan ma + diu + an berarti tempat raksasa. Raksasa dalam wacana pemikiran abad XV merupakan terminologi yang dikenakan pada pemuja berhala atau pemeluk agama asli. Tokoh Ki Sura merupakan gambaran dari Kyai Reksogati yang merupakan mubaligh  dan raksasa bukan berarti orang jahat dan durhaka tetapi merupakan gambaran penduduk yang masih beragama Hindu yang dianggap masih menyembah berhala atau arca. Dengan demikian penamaan Madiun berkait erat dengan proses Islamisasi daerah Madiun oleh Kesultanan Demak. Baca lebih lanjut

Penjara Kecil Madiun

Pernahkah (warga Madiun) mengetahui bahwa ada penjara lain selain penjara kletak (sekarang Lapas Madiun)?. Mungkin belum banyak yang tahu karena sekarang bangunan tersebut sudah layaknya seperti tempat angker yang ditumbuhi semak dan pohon-pohon. Penjara yang di maksud adalah Penjara CPM (Corps Polisi Militer) atau Rumah Tahanan Militer (RTM). Bangunan penjara tersebut terletak di Jalan A. Yani no.9 (dulu Jalan Wilis) dekat dengan Sekolah Santo Bernadus atau tepat pertigaan di sebelah kanan antara Jalan Pandaan dan Jalan A. Yani.

IMG20160221062813

Bagian depan dari Bangunan penjara

Baca lebih lanjut

Tanah Perdikan Wilayah Madiun (1) : Kuncen

Wilayah atau tanah perdikan merupakan wilayah atau tanah yang di bebaskan dari segala wajib pajak atau upeti karena daerah tersebut memiliki kekhususan tertentu dan berhak mengurus pemerintahanya sendiri. Perdikan berasal dari kata Mardikan/Merdeka yang berarti bebas.  Istilah sebelumnya pada masa hindu-budha dikenal juga dengan Tanah Sima. Menurut Timbul hariyono (1978:37), sima adalah sebidang tanah, baik berupa sawah, kebun,  desa atau beberapa taman, bahkan adakalanya hutan, karena suatu hal dijadikan perdikan. Peristiwa pendirian sima atau perdikan pada umumnya berkaitan dengan pemberian anugrah dari seorang raja atau bangsawan kepada sesorang atau sekelompok orang berupa pembebesan pajak kepada negara dengan tujuan hasil pajak tersebut dapat digunakan untuk pembiayaan pembangunan dan pemeliharaan sarana umum atau sebagai balas jasa.

Di wilayah madiun atau lebih tetapnya karesidenan Madiun, Desa Sima atau perdikan juga bisa kita temui. Baik itu masa kerajaan hindu-budha atau masa kerajaan islam. Pada masa Hindu-Budha Madiun memiliki beberapa daerah perdikan atau sering disebut sima. Status sima suatu daerah dituliskan dalam bentuk prasasti dari batu atau tembaga. Desa-desa tersebut adalah Desa Mruwak berdasarkan Prasasti Mrwak (1108 Saka), Desa Kawambang Kulwan berdasarkan Prasasti Sendang Kamal (915 saka), Desa Tadji berdasarkan prasasti Taji Ponorogo (823 Saka), dan Desa Palebuhan berdasarkan Prasasti Gorang-Gareng (849 Saka), Magetan. Status sima pada desa-desa diatas hanya berlangsung pada masa hindu-budha saja dan dari keempat desa sima di wilayah madiun hanya mruwak yang namanya masih dipakai hingga sekarang.

Pada masa Kerajaan islam, wilayah madiun juga masih memiliki desa perdikan. Pada masa Kesultanan Mataram Yogyakarta, Madiun memiliki 8 daerah perdikan masa yaitu tanah perdikan Taman, Kuncen (Demangan), Kuncen (Caruban), Sewulan, Banjarsari, Giripurno (Magetan), Tegalsari (Ponorogo) dan Pacalan (Magetan). Beberapa tanah perdikan merupakan tanah peruntukan untuk para makam bupati-bupati, dan keturunannya serta kyai-kyai besar yang berjasa pada pemerintahan pada saat itu. Selain makam, dibangun pula masjid sebagai tempat peribadatan namun tidak semua tanah perdikan di terdapat sebuah masjid. Pemimpin tanah perdikan ini adalah seorang kyai atau ulama. Status perdikan mulai dihapus setelah kemerdekaan dan menjadi desa biasa yang dikepalai oleh Kepala Desa atau Lurah. Semua daerah bekas tanah perdikan masih ada hingga sekarang bahkan menjadi tujuan untuk menimba ilmu agama islam dan berziarah serta berwisata religi. Tulisan ini akan memberikan informasi sedikit tentang sejarah desa-desa perdikan di Madiun yang ada pada masa Kesultanan Mataram-Yogyakarta. Sumber utama tulisan ini berasal dari buku Sejarah Kabupaten Madiun tahun 1980 serta ditambahkan beberapa literatur.

Tanah Perdikan Kuncen Baca lebih lanjut

Mengenal Bentuk-Bentuk Prasasti Batu.

Prasasti merupakan tinggalan arkeologi yang berupa tulisan dari masa lampau. Prasasti mempunyai peranan yang penting dalam penyusunan sejarah kuna Indonesia karena menghubungkan benda (artefak) dengan kisah sejarah berdasarkan informasi yang diperoleh dari isi prasasti. Meskipun begitu penulisan sejarah dengan bersumber dengan prasasti harus tetap memerlukan analisis-analisis. Ilmu yang digunakan dalam mengkaji prasasti adalah epigrafi, sedangkan orang yang meneliti prasasti disebut epigraf. Sampai saat ini terdapat kurang lebih 900 prasasti yang ditemukan dan sebagian besar merupakan prasasti masa hindu-budha. Sebagian dari prasasti-prasasti  itu memuat naskah panjang, tetapi ada juga di antaranya yang hanya memuat angka tahun atau nama seseorang pejabat kerajaan (Casparis, 1952 : 21-23). Prasasti-Prasasti masa hindu-budha sebagaian besar merupakan prasasti sima yakni anugerah dari seorang raja kepada pejabat yang telah berjasa atau untuk kepentingan suatu bangunan suci, namun ada pula prasasti yang memuat keputusan peradilan atau Jayapattra dan juga pelunasan hutang  atau proses gadai atau Sudhapattra. Untuk bahasa yang digunakan dalam prasasti mengunakan bahasa Sansekerta, Melayu Kuno, Sunda Kuno, Bali Kuno dan Jawa Kuno, sedangkan hurufnya memakai Pallawa, Prenagari, Melayu Kuno, Sunda Kuno dan Jawa Kuno

Berdasarkan jenis bahannya, prasasti digolongkan menjadi tiga yakni prasasti batu (upala prasasti), prasasti tembaga (tamra prasasti), dan prasasti pada lontar (ripta prasasti). Jenis Prasasti batu sering banyak dikita temui diberbagai tempat misal dimuseum , dan sebagaian diantaranya masih berada lokasi asli atau in situ. Bentuk-bentuk prasasti batu sangat beraneka ragam, ada yang berbentuk tiang, batu alam, bahkan ada yang berbentuk balok batu. Tulisan ini akan menjabarkan bentuk-bentuk prasasti batu berdasarkan Tesis Jurusan Arkelogi Univeritas Indonesia yang ditulis oleh Budi Santoso tahun 1995. Berdasarkan pengamatan Budi Santoso bentuk-bentuk prasasti batu dikelompokan menjadi 6 variasi bentuk yang tediri dari 1) Bentuk Tiang Batu, 2) Batu Alam, 3) Lingga, 4) Balok (Stela), 5) Wadah dan 6) Arca. Baca lebih lanjut

Prasasti Rini

Dalam dokumentasi Bakorsutanal Cibong dalam Penelitian dan pengkajian kepurbakalaan di sepanjang Sungai Lekso Kec. Wlingi, Kab. Blitar, Prov. Jawa Timur tahun 1995, melaporkan keberadaan sebuah prasasti yang terletak di Desa suru (seharusnya Desa Doko), Kec. Doko dan dirawat oleh penduduk setempat dan dikeramatkan. Penamaan Prasasti ini merujuk pada sebuah sungai terletak disebelah selatan prasasti ini, yaitu sungai Rini. Oleh warga setempat prasasti rini diberi nama Mbah Irosuto dan dijadikan dayangan atau punden. Huruf pada prasasti Rini memakai jawa kuno dan diukir timbul pada sebuah batu dibentuk stella dengan ukuran tinggi 70 cm, lebar bawah 15 cm, lebar atas 10 cm, lebar tengah 40 cm.

img_2512

Prasasti Rini II yang masih in situ (dok. 2014)

Laporan ROC tahun 1908 disebutkan bahwa di Perceel Rini, Distrik Wlingi atau kemungkinan didaerah tempat prasasti rini berada pernah ditemukan sebuah prasasti atau inskripsi hanya terukirkan angka tahun 1086 saka. Prasasti tersebut terdokumentasi juga dalam bentuk foto yang dapat diakses lewat situs kitlv-pictura.com. Prasasti angka tahun ini sekarang berada di Museum Nasional dengan kode koleksi D. 137. Bisa disimpulkan bahwa Prasasti Rini yang sekarang merupakan prasasti “baru”.

img20151129135850

Prasasti Rini I yang berada di Museum Nasional (dok. 2015)

Sepakbola di Madiun Masa Kolonial III : Kiprah P.S.M. Madiun

Salah satu bagian dari sejarah madiun yang saat ini terlupakan adalah tim sepakbolanya yakni PSM Madiun. Kenapa? Jawabnya cukup singkat karena PSM Madiun merupakan salah satu pendiri PSSI. Tidak banyak yang mengetahui tentang hal ini kecuali masyarakat pencinta sepakbola. Sekarang sebagai salah satu pendiri PSSI, PSM Madiun kini menjadi salah satu klub yang prestasinya paling menyedihkan. Urusan prestasi kini PSM sudah tertinggal jauh dengan para pendiri PSSI yang lain. Berdasarkan informasi yang saya peroleh, PSM yang kini berlaga di Liga Nusantara (Divis III) dan sempat mengalami dualisme. Keterpurukan dan kenihilan prestasi PSM Madiun sekarang membuat tim tersebut seakan-akan lenyap dan terlupakan oleh pecinta sepakbola dan masyarakat warga Madiun. Hal ini jelas ditakutkan oleh para pecinta sepakbola Madiun. Sebagai salah satu klub pendiri PSSI, PSM Madiun adalah artefak hidup dalam sejarah sepak bola Indonesia yang harus diselamatkan pencinta sepak bola nasional. Salah satu kelompok supporter madiun yang peduli dengan PSM Madiun membuat graffiti-grafiti (lukisan dinding) disudut-sudut kota madiun tentang ajakan untuk menyelamatkan dan tidak melupakan PSM Madiun, selain itu mereka juga membuat (tagar) #savePSMmadiun di media sosial. Tulisan yang saya buat ini juga merupakan kepedulian saya terhadap PSM Madiun. Tulisan akan sedikit menceritakan tentang kiprah PSM Madiun pada masa penjajahan Belanda berdasarkan informasi yang saya miliki.

img20161009073140

Salah satu Grafiti “Selamatkan PSM Madiun” yang di belakang Pasar Sleko

Baca lebih lanjut

Sepakbola di Madiun Masa Kolonial II : Madioen Elftal dalam Stedenwedstrijden NIVB/NIVU.

Mengenai pendirian NIVB sudah dijelaskan sebelumnya, Bahwa NIVB (NederlandschIndische Voetbal Bond) adalah federasi yang mewadahi urusan sepakbola sepakbola di Hindia Belanda. NIVB berdiri pada 1919 di Batavia yang didirikan oleh empat kota besar di Pulau Jawa yakni Batavia, Bandung, Semarang, dan Surabaya.  NIVB menjadi satusatunya federasi di Hindia Belanda yang sudah menjadi anggota FIFA saat itu. Pada awalnya anggota-anggota perkumpulan NIVB hanyalah orang-orang Eropa saja. Namun, lambat laun mulai masuklah pemain-pemain dari kalangan Tionghoa dan pribumi. Anggotanya merupakan kota-kota besar di jawa yang kemudian membentuk federasi. NIVB kemudian membuat kompetisi yang mempertemukan kota-kota besar di pulau jawa atau dikenal dengan stedenwedstrijden de NIVB. Sebenarnya pertandingan antar kota sudah berlangsung 6 tahun sebelum NIVB berdiri.

Stedenwedstrijden pertama berlangsung pada bulan Agustus 1914. Pada itu bersamaan dengan perhelatan Koloniale Tentoonstelling (Pameran Kolonial) di Semarang. Dalam ingatan warga Semarang, momen ini dikenal dengan “Pasar Sentiling”, sebentuk salah ucap “Tentoonstelling” dalam lidah lokal. Sebagai upaya pemerintah kolonial untuk mengenalkan dirinya, momen itu digunakan untuk memamerkan berbagai kemajuan yang sudah dibuat oleh pemerintah, dari mulai teknologi sampai hasil bumi. Guna meramaikan pameran, tiap malam digelar juga pasar malam di beberapa tempat sekaligus. Digelar juga beberapa pertunjukan teater, musik sampai olahraga. Kriket dan sepakbola lagi-lagi ikut ambil bagian (Sugito, 2013).

Kompetisi diikuti oleh 4 Kota besar yakni Semarang (Tuan Rumah), Batavia, Bandung dan Surabaya. Sebenarnya tim singapura juga diundang kompetisi tersebut, tapi rencana itu gagal karena meletusnya Perang Dunia I. Batavia keluar sebagai juara setelah mengalahkan tuan rumah Semarang 2-0. Karena meningkatnya animo masyarakat untuk menonton pertandingan sepakbola yang dimainkan oleh klubklub terkemuka yang saling bertemu, turnamen yang awalnya hanya untuk memeriahkan Koloniale Tentoonstelling pun akhirnya menjadi turnamen rutin tahunan. Sejak itulah kompetisi antarkota tak putus-putusnya digelar setiap tahun dengan masingmasing kota bergiliran menjadi tuan rumah. Setelah berdirinya NIVB , federasi sepakbola Hindia Belanda, pada 1919, kompetisi ini pun pengelolaannya diambil alih-oleh NIVB.

Memasuki tahun 1920an, NIVB memerima banyak anggota. Banyak kota-kota yang akhirnya membentuk (bond atau federasi lokal). Pada 1925, Cirebon, Tegal dan Pekalongan mendirikan NJVB (Noord Java Voetbal Bond) dan diterima oleh NIVB. Sejak keanggotaan NIVB bertambah di luar empat kota utama itu, kompetisi antarkota pun statusnya resmi menjadi Steden Kampioenswedstrijden, setelah sebelumnya hanya berstatus Steden wedstrijden (Sugito, 2013). Bagaimana dengan Madiun? Dan kapan Madiun masuk menjadi anggota NIVB?. Ketika banyak kota-kota mendirikan bond-bond atau federasi lokal. Madiun masuk menjadi anggota NIVB pada tahun 1931, pada saat itu bersama Blitar dan Kediri mendirikan sebuah federasi sepakbola lokal yang bernama SCVD (Stadelijke Combinati Voetbal Bond).  Kompetisi tahun 1931, Blitar ikut berpatisipasi namun tim kala itu adalah tim gabungan (combinatie) Blitar, Madiun dan Kediri. Hasilnya tim gabungan tersebut melaju hingga putaran final (www.rsssf.com ). Baca lebih lanjut