Situs Umpak Resho Gati : Cikal Bakal Kab. Madiun

Kelurahan atau Desa Sogaten merupakan sebuah wilayah yang masuk kecamatan Mangunharjo, Kota Madiun. Siapa sangka kelurahan yang terletak sebelah utara kota madiun dan berbatasan dengan desa sidomulyo Kab. Madiun ini memiliki peran penting dalam berdirinya kabupaten Madiun. Desa Sogaten dulu merupakan pusat pemerintahan awal Kabupaten Madiun. Cikal berdirinya kabupaten Madiun diawali oleh datangnya utusan dari Kerajaan Demak. Pada tahun 1918, Pangeran Surya Pati Unus mengirimkan seorang pengawas bernama Kyai Reksogati ke Purabhaya. Selain bertugas sebagai pengawas, Kyai Reksogati  juga bertugas untuk menyebarkan agama islam di wilayah Madiun yang masih banyak menyembah berhala. Kisah Kyai Reksogati ini, memunculkan versi lain mengenai asal-usul nama madiun.

Dalam tinjauan bahasa Kawi, kata “Madiun” berasal dari kata dasar diu berarti raksasa, ma menggambarkan tindakan aktif dan an menggambarkan tempat. Jika digabungkan ma + diu + an berarti tempat raksasa. Raksasa dalam wacana pemikiran abad XV merupakan terminologi yang dikenakan pada pemuja berhala atau pemeluk agama asli. Tokoh Ki Sura merupakan gambaran dari Kyai Reksogati yang merupakan mubaligh  dan raksasa bukan berarti orang jahat dan durhaka tetapi merupakan gambaran penduduk yang masih beragama Hindu yang dianggap masih menyembah berhala atau arca. Dengan demikian penamaan Madiun berkait erat dengan proses Islamisasi daerah Madiun oleh Kesultanan Demak. Baca lebih lanjut

Iklan

Penjara Kecil Madiun

Pernahkah (warga Madiun) mengetahui bahwa ada penjara lain selain penjara kletak (sekarang Lapas Madiun)?. Mungkin belum banyak yang tahu karena sekarang bangunan tersebut sudah layaknya seperti tempat angker yang ditumbuhi semak dan pohon-pohon. Penjara yang di maksud adalah Penjara CPM (Corps Polisi Militer) atau Rumah Tahanan Militer (RTM). Bangunan penjara tersebut terletak di Jalan A. Yani no.9 (dulu Jalan Wilis) dekat dengan Sekolah Santo Bernadus atau tepat pertigaan di sebelah kanan antara Jalan Pandaan dan Jalan A. Yani.

IMG20160221062813

Bagian depan dari Bangunan penjara

Baca lebih lanjut

Tanah Perdikan Wilayah Madiun (1) : Kuncen

Wilayah atau tanah perdikan merupakan wilayah atau tanah yang di bebaskan dari segala wajib pajak atau upeti karena daerah tersebut memiliki kekhususan tertentu dan berhak mengurus pemerintahanya sendiri. Perdikan berasal dari kata Mardikan/Merdeka yang berarti bebas.  Istilah sebelumnya pada masa hindu-budha dikenal juga dengan Tanah Sima. Menurut Timbul hariyono (1978:37), sima adalah sebidang tanah, baik berupa sawah, kebun,  desa atau beberapa taman, bahkan adakalanya hutan, karena suatu hal dijadikan perdikan. Peristiwa pendirian sima atau perdikan pada umumnya berkaitan dengan pemberian anugrah dari seorang raja atau bangsawan kepada sesorang atau sekelompok orang berupa pembebesan pajak kepada negara dengan tujuan hasil pajak tersebut dapat digunakan untuk pembiayaan pembangunan dan pemeliharaan sarana umum atau sebagai balas jasa.

Di wilayah madiun atau lebih tetapnya karesidenan Madiun, Desa Sima atau perdikan juga bisa kita temui. Baik itu masa kerajaan hindu-budha atau masa kerajaan islam. Pada masa Hindu-Budha Madiun memiliki beberapa daerah perdikan atau sering disebut sima. Status sima suatu daerah dituliskan dalam bentuk prasasti dari batu atau tembaga. Desa-desa tersebut adalah Desa Mruwak berdasarkan Prasasti Mrwak (1108 Saka), Desa Kawambang Kulwan berdasarkan Prasasti Sendang Kamal (915 saka), Desa Tadji berdasarkan prasasti Taji Ponorogo (823 Saka), dan Desa Palebuhan berdasarkan Prasasti Gorang-Gareng (849 Saka), Magetan. Status sima pada desa-desa diatas hanya berlangsung pada masa hindu-budha saja dan dari keempat desa sima di wilayah madiun hanya mruwak yang namanya masih dipakai hingga sekarang.

Pada masa Kerajaan islam, wilayah madiun juga masih memiliki desa perdikan. Pada masa Kesultanan Mataram Yogyakarta, Madiun memiliki 8 daerah perdikan masa yaitu tanah perdikan Taman, Kuncen (Demangan), Kuncen (Caruban), Sewulan, Banjarsari, Giripurno (Magetan), Tegalsari (Ponorogo) dan Pacalan (Magetan). Beberapa tanah perdikan merupakan tanah peruntukan untuk para makam bupati-bupati, dan keturunannya serta kyai-kyai besar yang berjasa pada pemerintahan pada saat itu. Selain makam, dibangun pula masjid sebagai tempat peribadatan namun tidak semua tanah perdikan di terdapat sebuah masjid. Pemimpin tanah perdikan ini adalah seorang kyai atau ulama. Status perdikan mulai dihapus setelah kemerdekaan dan menjadi desa biasa yang dikepalai oleh Kepala Desa atau Lurah. Semua daerah bekas tanah perdikan masih ada hingga sekarang bahkan menjadi tujuan untuk menimba ilmu agama islam dan berziarah serta berwisata religi. Tulisan ini akan memberikan informasi sedikit tentang sejarah desa-desa perdikan di Madiun yang ada pada masa Kesultanan Mataram-Yogyakarta. Sumber utama tulisan ini berasal dari buku Sejarah Kabupaten Madiun tahun 1980 serta ditambahkan beberapa literatur.

Tanah Perdikan Kuncen Baca lebih lanjut

Mengenal Bentuk-Bentuk Prasasti Batu.

Prasasti merupakan tinggalan arkeologi yang berupa tulisan dari masa lampau. Prasasti mempunyai peranan yang penting dalam penyusunan sejarah kuna Indonesia karena menghubungkan benda (artefak) dengan kisah sejarah berdasarkan informasi yang diperoleh dari isi prasasti. Meskipun begitu penulisan sejarah dengan bersumber dengan prasasti harus tetap memerlukan analisis-analisis. Ilmu yang digunakan dalam mengkaji prasasti adalah epigrafi, sedangkan orang yang meneliti prasasti disebut epigraf. Sampai saat ini terdapat kurang lebih 900 prasasti yang ditemukan dan sebagian besar merupakan prasasti masa hindu-budha. Sebagian dari prasasti-prasasti  itu memuat naskah panjang, tetapi ada juga di antaranya yang hanya memuat angka tahun atau nama seseorang pejabat kerajaan (Casparis, 1952 : 21-23). Prasasti-Prasasti masa hindu-budha sebagaian besar merupakan prasasti sima yakni anugerah dari seorang raja kepada pejabat yang telah berjasa atau untuk kepentingan suatu bangunan suci, namun ada pula prasasti yang memuat keputusan peradilan atau Jayapattra dan juga pelunasan hutang  atau proses gadai atau Sudhapattra. Untuk bahasa yang digunakan dalam prasasti mengunakan bahasa Sansekerta, Melayu Kuno, Sunda Kuno, Bali Kuno dan Jawa Kuno, sedangkan hurufnya memakai Pallawa, Prenagari, Melayu Kuno, Sunda Kuno dan Jawa Kuno

Berdasarkan jenis bahannya, prasasti digolongkan menjadi tiga yakni prasasti batu (upala prasasti), prasasti tembaga (tamra prasasti), dan prasasti pada lontar (ripta prasasti). Jenis Prasasti batu sering banyak dikita temui diberbagai tempat misal dimuseum , dan sebagaian diantaranya masih berada lokasi asli atau in situ. Bentuk-bentuk prasasti batu sangat beraneka ragam, ada yang berbentuk tiang, batu alam, bahkan ada yang berbentuk balok batu. Tulisan ini akan menjabarkan bentuk-bentuk prasasti batu berdasarkan Tesis Jurusan Arkelogi Univeritas Indonesia yang ditulis oleh Budi Santoso tahun 1995. Berdasarkan pengamatan Budi Santoso bentuk-bentuk prasasti batu dikelompokan menjadi 6 variasi bentuk yang tediri dari 1) Bentuk Tiang Batu, 2) Batu Alam, 3) Lingga, 4) Balok (Stela), 5) Wadah dan 6) Arca. Baca lebih lanjut

Prasasti Rini

Dalam dokumentasi Bakorsutanal Cibong dalam Penelitian dan pengkajian kepurbakalaan di sepanjang Sungai Lekso Kec. Wlingi, Kab. Blitar, Prov. Jawa Timur tahun 1995, melaporkan keberadaan sebuah prasasti yang terletak di Desa suru (seharusnya Desa Doko), Kec. Doko dan dirawat oleh penduduk setempat dan dikeramatkan. Penamaan Prasasti ini merujuk pada sebuah sungai terletak disebelah selatan prasasti ini, yaitu sungai Rini. Oleh warga setempat prasasti rini diberi nama Mbah Irosuto dan dijadikan dayangan atau punden. Huruf pada prasasti Rini memakai jawa kuno dan diukir timbul pada sebuah batu dibentuk stella dengan ukuran tinggi 70 cm, lebar bawah 15 cm, lebar atas 10 cm, lebar tengah 40 cm.

img_2512

Prasasti Rini II yang masih in situ (dok. 2014)

Laporan ROC tahun 1908 disebutkan bahwa di Perceel Rini, Distrik Wlingi atau kemungkinan didaerah tempat prasasti rini berada pernah ditemukan sebuah prasasti atau inskripsi hanya terukirkan angka tahun 1086 saka. Prasasti tersebut terdokumentasi juga dalam bentuk foto yang dapat diakses lewat situs kitlv-pictura.com. Prasasti angka tahun ini sekarang berada di Museum Nasional dengan kode koleksi D. 137. Bisa disimpulkan bahwa Prasasti Rini yang sekarang merupakan prasasti “baru”.

img20151129135850

Prasasti Rini I yang berada di Museum Nasional (dok. 2015)

Sepakbola di Madiun Masa Kolonial III : Kiprah P.S.M. Madiun

Salah satu bagian dari sejarah madiun yang saat ini terlupakan adalah tim sepakbolanya yakni PSM Madiun. Kenapa? Jawabnya cukup singkat karena PSM Madiun merupakan salah satu pendiri PSSI. Tidak banyak yang mengetahui tentang hal ini kecuali masyarakat pencinta sepakbola. Sekarang sebagai salah satu pendiri PSSI, PSM Madiun kini menjadi salah satu klub yang prestasinya paling menyedihkan. Urusan prestasi kini PSM sudah tertinggal jauh dengan para pendiri PSSI yang lain. Berdasarkan informasi yang saya peroleh, PSM yang kini berlaga di Liga Nusantara (Divis III) dan sempat mengalami dualisme. Keterpurukan dan kenihilan prestasi PSM Madiun sekarang membuat tim tersebut seakan-akan lenyap dan terlupakan oleh pecinta sepakbola dan masyarakat warga Madiun. Hal ini jelas ditakutkan oleh para pecinta sepakbola Madiun. Sebagai salah satu klub pendiri PSSI, PSM Madiun adalah artefak hidup dalam sejarah sepak bola Indonesia yang harus diselamatkan pencinta sepak bola nasional. Salah satu kelompok supporter madiun yang peduli dengan PSM Madiun membuat graffiti-grafiti (lukisan dinding) disudut-sudut kota madiun tentang ajakan untuk menyelamatkan dan tidak melupakan PSM Madiun, selain itu mereka juga membuat (tagar) #savePSMmadiun di media sosial. Tulisan yang saya buat ini juga merupakan kepedulian saya terhadap PSM Madiun. Tulisan akan sedikit menceritakan tentang kiprah PSM Madiun pada masa penjajahan Belanda berdasarkan informasi yang saya miliki.

img20161009073140

Salah satu Grafiti “Selamatkan PSM Madiun” yang di belakang Pasar Sleko

Baca lebih lanjut

Sepakbola di Madiun Masa Kolonial II : Madioen Elftal dalam Stedenwedstrijden NIVB/NIVU.

Mengenai pendirian NIVB sudah dijelaskan sebelumnya, Bahwa NIVB (NederlandschIndische Voetbal Bond) adalah federasi yang mewadahi urusan sepakbola sepakbola di Hindia Belanda. NIVB berdiri pada 1919 di Batavia yang didirikan oleh empat kota besar di Pulau Jawa yakni Batavia, Bandung, Semarang, dan Surabaya.  NIVB menjadi satusatunya federasi di Hindia Belanda yang sudah menjadi anggota FIFA saat itu. Pada awalnya anggota-anggota perkumpulan NIVB hanyalah orang-orang Eropa saja. Namun, lambat laun mulai masuklah pemain-pemain dari kalangan Tionghoa dan pribumi. Anggotanya merupakan kota-kota besar di jawa yang kemudian membentuk federasi. NIVB kemudian membuat kompetisi yang mempertemukan kota-kota besar di pulau jawa atau dikenal dengan stedenwedstrijden de NIVB. Sebenarnya pertandingan antar kota sudah berlangsung 6 tahun sebelum NIVB berdiri.

Stedenwedstrijden pertama berlangsung pada bulan Agustus 1914. Pada itu bersamaan dengan perhelatan Koloniale Tentoonstelling (Pameran Kolonial) di Semarang. Dalam ingatan warga Semarang, momen ini dikenal dengan “Pasar Sentiling”, sebentuk salah ucap “Tentoonstelling” dalam lidah lokal. Sebagai upaya pemerintah kolonial untuk mengenalkan dirinya, momen itu digunakan untuk memamerkan berbagai kemajuan yang sudah dibuat oleh pemerintah, dari mulai teknologi sampai hasil bumi. Guna meramaikan pameran, tiap malam digelar juga pasar malam di beberapa tempat sekaligus. Digelar juga beberapa pertunjukan teater, musik sampai olahraga. Kriket dan sepakbola lagi-lagi ikut ambil bagian (Sugito, 2013).

Kompetisi diikuti oleh 4 Kota besar yakni Semarang (Tuan Rumah), Batavia, Bandung dan Surabaya. Sebenarnya tim singapura juga diundang kompetisi tersebut, tapi rencana itu gagal karena meletusnya Perang Dunia I. Batavia keluar sebagai juara setelah mengalahkan tuan rumah Semarang 2-0. Karena meningkatnya animo masyarakat untuk menonton pertandingan sepakbola yang dimainkan oleh klubklub terkemuka yang saling bertemu, turnamen yang awalnya hanya untuk memeriahkan Koloniale Tentoonstelling pun akhirnya menjadi turnamen rutin tahunan. Sejak itulah kompetisi antarkota tak putus-putusnya digelar setiap tahun dengan masingmasing kota bergiliran menjadi tuan rumah. Setelah berdirinya NIVB , federasi sepakbola Hindia Belanda, pada 1919, kompetisi ini pun pengelolaannya diambil alih-oleh NIVB.

Memasuki tahun 1920an, NIVB memerima banyak anggota. Banyak kota-kota yang akhirnya membentuk (bond atau federasi lokal). Pada 1925, Cirebon, Tegal dan Pekalongan mendirikan NJVB (Noord Java Voetbal Bond) dan diterima oleh NIVB. Sejak keanggotaan NIVB bertambah di luar empat kota utama itu, kompetisi antarkota pun statusnya resmi menjadi Steden Kampioenswedstrijden, setelah sebelumnya hanya berstatus Steden wedstrijden (Sugito, 2013). Bagaimana dengan Madiun? Dan kapan Madiun masuk menjadi anggota NIVB?. Ketika banyak kota-kota mendirikan bond-bond atau federasi lokal. Madiun masuk menjadi anggota NIVB pada tahun 1931, pada saat itu bersama Blitar dan Kediri mendirikan sebuah federasi sepakbola lokal yang bernama SCVD (Stadelijke Combinati Voetbal Bond).  Kompetisi tahun 1931, Blitar ikut berpatisipasi namun tim kala itu adalah tim gabungan (combinatie) Blitar, Madiun dan Kediri. Hasilnya tim gabungan tersebut melaju hingga putaran final (www.rsssf.com ). Baca lebih lanjut

Sepakbola di Madiun Masa Kolonial I: Jejak klub-klub Sepakbola Madiun.

Sepakbola adalah olahraga yang paling popular di seluruh jagat raya. Di belahan bumi mana pun olahraga ini sangat dikenal dan sering dimainkan. Belum diketahui secara pasti dari mana asal olahraga ini ada yang menyebut cina dan jepang sebagai asal permainan menyepak bola ini. Secara de facto, permainan sepakbola modern mulai perkenalkan dan dimainkan di Inggris. Pada tahun 1863 merupakan tonggak sejarah sepakbola modern, ada wasit, luas lapangan, dan jumlah pemain yang dibatasi. Hal ini kemudian berkembang ke negeri jajahan Inggris dan daerah jajahan negara-negara di Eropa (Wahyudi, 2009: 17). Di  Indonesia, sepakbola  dikenalkan oleh warga Belanda dari Eropa yang berkerja pada instansi-instansi pemerintahan Hindia Belanda. Pada mulanya, sepakbola dimainkan oleh orang-orang Barat, terutama Belanda. Efeknya kemudian mulai berdiri klub-klub sepakbola. Tercatat klub pertama yang berdiri adalah “Gymnastiek Vereeniging” pada 16 November 1887 yang berasal dari Medan.  Sebenarnya Gymnastiek Vereeniging bukan merupakan klub sepakbola murni melainkan berbagai macam olahraga, namum sepakbola menjadi salah cabangnya. Sedangkan, klub sepakbola yang pertama di pulau jawa adalah Bataviasche Cricket-Football club “Rood-Wit” pada tanggal 28 September 1893 yang bermarkas di Batavia. Kemudian disusul oleh Victoria dari Surbaya pada tahun 1894 oleh John Edgar.

Klub pertama pribumi yang berdiri yaitu Romeo yang didirikan oleh Susunahan Pakubuwono X pada tahun 1908. Orang-orang Tionghoa pun juga tidak ketinggalan. Mereka mendirikan beberapa klub-klub sepakbola yang hampir disetiap daerah ada dan juga mendirikan Chineese Voetbal Bond pada 6 januari 1924 yang bertujuan orang Tionghoa semakin bangga dengan dunia sepakbola dan memperkuat kedudukannya terhadap Belanda (Aji  2010: 72). Klub Tionghoa yang sampai sekarang masih eksis adalah UMS (Union Makes Strength) yang berdiri pada tahun 1906. Semakin banyaknya perkumpulan Sepakbola, maka untuk memfasilitasi kegiatan persepakbolaan di Hindia Belanda khususnya di Jawa, pada tahun 1919 dibentuklah sebuah organisasi sepakbola yang ditujukan untuk mewadahi hal tersebut. Perkumpulan ini diberi nama NIVB (Nederlandsch Indische Voetbal Bond). Pada awalnya anggota-anggota perkumpulan NIVB hanyalah orang-orang Eropa saja. Namun, lambat laun mulai masuklah pemain-pemain dari kalangan Tionghoa dan pribumi. NIVB membuat kompetisi antar -kota bernama “stedenwedstrijden”  atau “Staden Tournooi”. Setelah NIVB berdiri organisasi sepakbola pribumi bernama Persatuan SepakBola Seluruh Indonesia PSSI. Pendirian PSSI tahun 1930 dilatari dengan semangat nasionalisme, sumpah pemuda dan tentunya semangat pegerakan nasional yang sedang berlangsung pada saat itu.

Pada Perkembangan selanjutnya, sepak bola mulai digerandungi semua kalangan dan banyak berdiri klub-klub sepakbola di kota-kota besar. Madiun juga terkena imbas dari olahraga terpopuler ini. Pada umumnya masyarakat Madiun sekarang terutama pecinta sepakbola tentu lebih mengenal PSM Madiun. Namun bukan karena prestasinya tapi perananya dalam pendirian PSSI tahun 1930. Selain PSM juga terdapat klub-klub lain yang turut mewarnai persepakbolaan di Madiun. Berikut ini adalah tulisan saya tentang sepakbola di Madiun pada masa colonial. Sebelumnya, sumber perkembangan sepakbola di Madiun masih sangat sedikit. Tanpa buku babon tentang sejarah sepekbola Indonesia, saya mencoba menulis artikel ini dengan data seadanya yang saya punya dan tentu banyak kekurangan. tulisan ini bisa berubah jika terdapat sumber baru. Baca lebih lanjut

Kerkhof Madiun

Kota Madiun dibentuk oleh pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 20 Juni 1918, berkat adanya undang-undang disentralisasi. Pada awal pembentukan Gemeente Madiun tahun 1918, jumlah penduduk kota tersebar di dua belas desa dan seperti halnya beberapa daerah lain di Pulau Jawa, penduduk Kota Madiun terdiri atas tiga kewargaan yaitu warga Bumi Putera, Tionghoa dan warga Eropa. Ketiga golongan warga ini kemudian membentuk komunitas atau kampongnya masing. Berdasarkan hasil pengamatan daerah warga eropa berada disekitar area industri dan kantor-kantor pemerintahan (Jln Pahlawan), Bumi Putera bertempat sekitar alun-alun dan masjid agung (Mangunharjo), sedangkan Komunitas orang-orang Tionghoa berada di selatan alun-alun. Dalam hal pemakaman umum pun juga sendiri-sendiri, Pemakaman warga eropa yang biasa disebut Kerkhof berada di sebelah timur bantaran sungai madiun dan menempati wilayah kelurahan Madiun Lor. Namun, sayang wilayah kerkhof pada tahun 2000 mengalami alih fungsi tempat dan diambil alih oleh pemerintah kota. Bekas tanah Kerkhof tersebut kemudian dibangun beberapa fasilitas umum, meliputi jalan dan jembatan tembus ke winongo, perumahan, masjid, dan puskemas. Menurut penuturan salah satu warga, pembongkaran makam-makam sudah ada pemberitahuan sehingga banyak makam yang diambil tulang-tulang oleh keluarga untuk dipindah ke tempat lain. Pembongkaran itu tidak semua di area bekas kerkhof masih bisa beberapa makam saja yang berada di sebelah selatan dekat masjid.

page

Wilayah Kerkhof Madiun, Berdasar peta kota madiun tahun 1917 (Leiden.maps.) dan Peta sekarang bertanda kotak merah (googlemaps)

Baca lebih lanjut

Mengabdi Kepada Negara Lewat Batu (Profil Singkat PPCB Blitar)

Cagar Budaya, Juru Pelihara dan Blitar

Pengertian Cagar budaya dalam UU Cagar Budaya No. 11 Tahun 2010 adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan. Karena harus melalui proses penetapan, Cagar Budaya harus perlu di lestarikan. Salah satu cara pelestarian itu adalah dengan melakukan perlindungan terhadap cagar budaya itu. Aspek-aspek yang diperlukan untuk mendukung perlindungan cagar budaya adalah Penyelamatan, Pengamanan, Zonasi, Pemeliharaan, dan Pemugaran. Pada hal ini Jabatan Juru Pelihara Cagar Budaya masuk dalam aspek pemeliharaan. Juru pelihara merupakan salah satu tenaga kerja bidang cagar budaya yang mempunyai tugas memelihara, menjaga keamanan dan keselamatan cagar budaya agar tidak hilang, hancur, rusak, atau musnah. Di sini Juru Pelihara masuk dalam cara pemeliharaan cagar budaya dengan Preventif atau secara langsung sedangkan Kuratif dilaksanakan oleh Konservator atau tenaga ahli. Tugas Juru Pelihara secara Preventif adalah merawat Cagar Budaya dengan cara teknik mekanis kering, mekanis basah, pembersihan situs/ kawasan, pemeliharaan taman dan sarana-prasarananya.

Juru pelihara sama dengan juru kunci. Banyak orang yang menganggap pekerjaan sebagai juru pelihara sangat kurang menguntungkan dan dipandang sebelah mata karena hanya menjaga benda mati. Tapi itu dulu, sekarang juru pelihara menjadi tokoh yang paling sentral dan ujung tombak pelestarian cagar budaya. Pekerjaannya sangatlah mulia dan terhormat yaitu ikut serta dalam menentukan  wajah dan peradapan bangsa dikemudian hari. Sehingga menempat profesi Juru pelihara sebagai pahlawan Cagar Budaya. Mereka tak hanya menjadi juru rawat akan tetapi juga sebagai juru pandu cagar budaya yang dijaganya. Alasan mereka menekuni pekerjaan ini karena ingin mengabdikan diri mereka pada negara meski lewat batu. Batu yang dimaksud disini adalah batu bersejarah peninggalan nenek moyang, dimana sudah menjadi sebuah bangunan yang indah dan megah serta mempunyai nilai dan bisa membentuk karakter bangsa.

Hampir di setiap daerah yang memiliki cagar budaya, dan sudah pasti memiliki juru pelihara. Blitar terutama Kabupaten Blitar adalah salah satu daerah yang memiliki banyak juru pelihara cagar budaya. Banyaknya juru pelihara ini dikarenakan Blitar memiliki banyak memiliki sebaran cagar budaya yang berupa Candi, Situs dan Prasasti. Sebanyak 57 orang Juru Pelihara ditugaskan oleh negera yang diwakili Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur untuk menjaga dan merawat 32 titik cagar budaya yang ada di Kabupaten Blitar. Berikut data Cagar Budaya dan jumlah Juru pelihara di Kab. Blitar : Baca lebih lanjut